Indeks Wall Street Anjlok Usai Imbal Hasil Obligasi AS Melonjak

NYSE
Bursa efek New York atau Wall Street
20/5/2026, 06.49 WIB

Bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (19/5) di tengah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah yang memicu kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan reli pasar. 

Pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik dan pasar energi setelah Presiden AS, Donald Trump membatalkan rencana serangan terhadap Iran.

S&P 500 turun 0,67% dan ditutup di level 7.353,61 dan Nasdaq Composite terkoreksi 0,84% ke posisi 25.870,71. Adapun Dow Jones Industrial Average melemah 322,24 poin atau 0,65% menjadi 49.363,88.

Sektor teknologi kian babak belur hingga saham NVIDIA turun hampir 1% menjelang rilis laporan keuangan kuartal pertama fiskal perusahaan yang dijadwalkan setelah penutupan perdagangan Rabu. Sementara itu, saham Qualcomm ditutup melemah hampir 4%, sedangkan Broadcom turun sekitar 2%.

Pasar saham tertekan seiring meningkatnya volatilitas di pasar obligasi. Imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 30 tahun sempat menembus 5,19%, level tertinggi dalam hampir 19 tahun. 

Sementara yield Treasury tenor 10 tahun, yang menjadi acuan suku bunga kredit perumahan, pinjaman kendaraan, hingga kartu kredit, naik hingga 4,687% tertinggi sejak Januari 2025.

Kenaikan imbal hasil obligasi dipicu serangkaian laporan ekonomi yang menunjukkan inflasi kembali meningkat. Kondisi itu diperparah oleh perang di Iran yang mendorong harga minyak dunia tetap tinggi.

Naiknya suku bunga dikhawatirkan akan menekan daya beli masyarakat dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Kondisi tersebut juga bisa membuat valuasi saham terkoreksi, khususnya sektor teknologi dan produsen chip yang sebelumnya sempat melonjak

Kepala Investasi Prime Capital Financial, Will McGough, mengatakan para “bond vigilantes” kini mulai menunjukkan pengaruhnya di pasar. Istilah tersebut merujuk pada investor institusional yang menjual obligasi pemerintah sebagai bentuk protes terhadap kebijakan moneter yang dinilai terlalu longgar dan berisiko memicu inflasi.

Menurut McGough, pasar menilai inflasi berpotensi bertahan tinggi akibat kenaikan harga energi, sehingga investor mulai mempertanyakan respons bank sentral AS dalam mengendalikan tekanan harga.

“Pasar tengah menguji arah kebijakan Federal Reserve menjelang pelantikan Kevin Warsh sebagai ketua bank sentral AS pada Jumat mendatang,” ucap McGough dikutip CNBC International, Rabu (20/5). 

Seiring dengan itu, harga minyak mentah dunia ditutup turun usai Donald Trump, mengumumkan pembatalan rencana serangan terhadap Iran. Keputusan itu diambil setelah para pemimpin dari tiga negara besar di kawasan Timur Tengah meminta Washington menunda langkah militer itu.

Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juni turun 0,82% dan berakhir di level US$ 107,77 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli terkoreksi 0,73% ke posisi US$ 111,28 per barel.

Namun, ketegangan geopolitik belum sepenuhnya mereda. Pada sesi berikutnya, AS dilaporkan menyita sebuah kapal tanker minyak yang diduga terkait dengan Republik Islam Iran di Samudra Hindia. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila