Wika Beton (WTON) Incar Kontrak Rp 3,88 Triliun Tahun Ini, Jajaki Proyek Tambang

Wika Beton
Logo Wika Beton atau WTON (ilustrasi).
10/6/2026, 19.33 WIB

Emiten BUMN Karya PT Wijaya Karya Beton (WTON) atau Wika Beton mengincar nilai kontrak proyek mencapai Rp 3,88 triliun sepanjang 2026. Hampir sepertiganya telah direalisasikan pada triwulan pertama tahun ini.

Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya Beton, Ignatius Harry mengatakan, WTON membukukan kontrak baru senilai Rp 919,9 miliar pada kuartal pertama 2026. Perolehan itu ditopang proyek strategis dan pasar swasta dengan perolehan kontrak dari segmen swasta mencapai 54,85%. 

“Sementara kontrak dari BUMN 21,65% menjadi kontribusi kedua terbesar,” kata Ignatius ketika ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (10/6).

Berdasarkan sektornya, infrastruktur tetap menjadi tulang punggung dengan kontribusi 58,72%, disusul sektor industri 17,49%, properti 12,17%, pertambangan 5,77%, kelistrikan 4,89%, dan energi 0,96%

Sejalan dengan itu, Ignatius menyebut perusahaan tengah menjajaki peluang di sektor pertambangan melalui pemasaran Wika Beton Home (WHOME), produk hunian pracetak modular tipe 36 meter persegi.

Menurutnya, banyak proyek pertambangan yang berlokasi di daerah terpencil membutuhkan infrastruktur perumahan bagi pekerja.  Selain menyasar pengembang properti, perseroan saat ini juga aktif memasarkan produk tersebut ke perusahaan-perusahaan tambang yang membutuhkan fasilitas perumahan di area operasionalnya. Sebagai contoh, WTON telah menyelesaikan pembangunan proyek WHOME di Aceh.

Di samping itu, Ignatius mengatakan perseroan telah mengamankan sejumlah proyek baru dari sektor pertambangan. Salah satunya berasal dari Grup Adaro dengan nilai kontrak sekitar Rp 80 miliar.

Proyek tersebut terkait pengembangan fasilitas di area tambang milik PT Mustika Indah Permai (MIP), anak usaha PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang beroperasi di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Menurut Ignatius, proyek tersebut telah groundbreaking sekitar dua bulan lalu.

Tak hanya Grup Adaro, WTON juga mengamankan proyek untuk mendukung proyek Smelter Grade Alumina Refinery atau SGAR, fasilitas pemrosesan bijih bauksit menjadi alumina (bahan baku aluminium) milik Inalum dan Aneka Tambang (ANTM). Namun ia enggan merespons berapa nilai kontrak dari proyek itu.

Hingga kuartal I 2026, WTON membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 677 miliar dan laba bersih Rp 1,5 miliar. 

Kinerja tersebut ditopang oleh strategi diversifikasi bisnis yang efektif. Segmen produk putar menjadi kontributor terbesar terhadap pendapatan dengan porsi 48,36%, diikuti produk non-putar sebesar 32,84%, segmen konstruksi 15,85%, serta jasa sebesar 2,95%. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila