Rupiah Diproyeksi Lanjutkan Pelemahan Saat Defisit APBN Kian Melebar
Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih berpotensi melemah terhadap dolar AS pada hari ini, Selasa (23/9). Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, menyebut pelemahan rupiah dipicu oleh kondisi ekonomi domestik, khususnya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang semakin melebar.
Defisit APBN per Agustus 2025 tembus Rp 321,6 triliun atau 1,35% dari produk domestik bruto (PDB). “Rilis menunjukkan defisit melebar, ada kemungkinan rupiah kembali melemah ke Rp 16.650 per dolar AS,” kata Fikri kepada Katadata.co.id, Selasa (23/9).
Selain faktor domestik, pergerakan rupiah juga dipengaruhi kondisi global, khususnya pernyataan Bank Sentral AS (The Fed). Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, menyatakan kemungkinan The Fed akan mengambil sikap netral.
Meski diproyeksikan melemah, rupiah pada pagi ini dibuka menguat pada level Rp 16,598 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg. Level ini naik 12 poin atau 0,07% dari penutupan sebelumnya.
Sementara itu, Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengungkapkan pada hari ini ada peluang penguatan rupiah. “Rupiah diperkirakan berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah,” kata Lukman.
Ia menjelaskan, pelemahan dolar AS dipicu kekhawatiran atas kebijakan imigrasi terbaru Presiden AS Donald Trump. Dalam hal ini, Trump mengenakan biaya visa pekerja H-1B hingga US$ 100.000 atau setara Rp 1,66 miliar (kurs JISDOR Rp 16.607 per dolar AS).
Lukman menambahkan, dolar AS juga tidak mendapatkan dukungan dari pidato para pejabat The Fed semalam yang memberikan sinyal beragam. “Rupiah akan berada di level Rp 16.500 per dolar AS hingga Rp 16.650 per dolar AS,” kata Lukman.