Tensi perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok mereda sementara setelah kedua pemimpin negara sepakat menangguhkan pengenaan bea masuk tinggi untuk sejumlah produk. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai, dengan kondisi global yang lebih kondusif, nilai tukar rupiah berpotensi semakin perkasa.

"Dengan berita perang dagang, maka akan terbuka peluang rupiah menguat yang sebenarnya sudah mulai menguat sejak akhir Oktober lalu," kata dia di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, Senin (3/12). Adapun penguatan nilai tukar rupiah belakangan ini disebutnya sebagai yang tercepat di antara mata uang negara berkembang lainnya seperti Brazil, India, Afrika Selatan, dan Turki, bahkan dibandingkan negara ASEAN lain.

Bila mengacu pada data Bloomberg, nilai tukar rupiah sempat menyentuh level terkuat Rp 14.229 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot Senin (3/12) ini. Artinya, penguatan rupiah telah mencapai Rp 1.000 dari posisi penutupan terlemahnya sepanjang tahun ini yaitu Rp 15.235 per dolar AS pada pertengahan Oktober lalu.

Adapun perang dagang antara AS-Tiongkok memunculkan kekhawatiran bakal terpukulnya ekonomi global. Kekhawatiran terkait perang dagang, ditambah antisipasi terkait kenaikan bunga acuan AS merupakan pemicu utama arus keluar dana asing dari pasar keuangan negara berkembang ke aset dalam dolar AS (safe haven) beberapa waktu lalu. Kondisi ini menyebabkan terpukulnya nilai tukar mata uang negara berkembang terhadap dolar AS.

(Baca juga: AS-Tiongkok Gencatan Senjata, Kekhawatiran Perang Dagang Belum Mereda)

Menurut Darmin, turunnya tensi perang dagang dapat melancarkan kembali pelaksanaan program kebijakan ekonomi pemerintah untuk perbaikan dari sisi pasokan (supply-side). Perbaikan yang dimaksud yakni lewat perbaikan kualitas infrastruktur, Sumber Daya Manusia (SDM), dan redistribusi pertanahan.

Ke depan, sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo, fokus perbaikan supply-side akan digeser secara bertahap dari pembangunan infrastruktur menjadi perbaikan kualitas SDM. "Apabila dijalankan, perbaikan supply-side akan menjadi basis untuk keluar dari jeratan tekanan eksternal” ujarnya.

Di sisi lain, pemerintah juga tetap mendorong dari sisi permintaan (demand-side). Hal ini dilakukan dengan menjaga tingkat konsumsi, Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB), dan tingkat ekspor. Kedua sisi tersebut akan dijaga keseimbangannya agar transformasi ekonomi dapat terealisasi.