BI Catat Aliran Modal Asing yang Masuk RI Pekan Ini Capai Rp 3,4 T

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/pras.
Ilustrasi, uang dolar Amerika Serikat. Bank Indonesia mencatat aliaran modal asing yang kembali masuk Indonesia pada pekan ini mencapai Rp 3,4 triliun.
26/6/2020, 15.35 WIB

Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing kembali masuk ke Indonesia pada pekan ini. Total dana yang masuk mencapai Rp 3,4 triliun,

Adapun dana asing paling deras masuk melalui pasar Surat Berharga Negara (SBN). "Berdasarkan data transaksi 22-25 Juni 2020, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp 3,4 triliun," tulis Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dalam keterangan resminya, Jakarta, Jumat (26/6).

Secara detail, aliran modal asing masuk lewat SBN tercatat Rp 4,92 triliun. Namun, terdapat modal asing yang kabur dari Tanah Air melalui pasar saham Rp 1,52 triliun. Dengan demikian, BI mencatat nett inflow sebesar Rp 141,72 triliun sejak awal tahun ini.

Selain itu, bank sentral juga mencatat imbal hasil alias yield SBN 10 tahun naik dari lebel 7,15% menjadi 7,18% pada Jumat (26/6) pagi. Sedangkan yield US Treasurey Note 10 tahun turun ke level 0,686%.

(Baca: Modal Asing Masuk Masih Seret Meski Imbal Hasil Surat Utang RI Menarik)

(Baca: Kuartal II Kontraksi, BI Prediksi Pertumbuhan Ekonomi 2020 Hanya 1,9%)

Sebelumnya, BI mencatat posisi investasi internasional Indonesia net kewajiban pada triwulan I 2020 sebesar US$ 253,8 miliar atau 22,5% dari PDB, menurun dari posisi akhir triwulan IV 2019 yang sebesar US$ 339,4 miliar. Penurunan kewajiban neto tersebut dikarenakan posisi Kewajiban Finansial Luar Negeri (KFLN) yang turun lebih dalam dibandingkan dengan penurunan posisi Aset Finansial Luar Negeri (AFLN).

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko mengatakan penurunan posisi KFLN terutama didorong oleh penurunan investasi portofolio. "Sejalan dengan arus keluar modal asing pada triwulan laporan sebagai dampak peningkatan ketidakpastian global akibat pandemi Covid-19," ujar Onny.

Adapun posisi KFLN Indonesia turun 13,5% dari US$ 712,9 miliar dolar AS pada akhir triwulan IV 2019 menjadi US$ 616,4 miliar. Penurunan kewajiban tersebut terutama disebabkan oleh net outflow transaksi investasi portofolio khususnya pada instrumen SBN domestik dan saham.

Penurunan posisi KFLN juga dipengaruhi oleh faktor revaluasi atas instrumen investasi berdenominasi rupiah. Hal tersebut sejalan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Sedangkan posisi AFLN menurun terutama didorong oleh transaksi aset dalam bentuk cadangan devisa. Posisi AFLN tercatat turun 2,9% dari US$ 373,4 miliar pada triwulan IV 2019 menjadi US$ 362,6 miliar.

Selain karena faktor transaksi, Onny menyebut penurunan AFLN juga didorong oleh revaluasi akibat penguatan dolar AS terhadap beberapa mata uang utama dunia. "Serta penurunan rerata indeks saham di sebagian besar negara penempatan investasi residen," ujarnya.

(Baca: Pengusaha Nilai Peluang RI Gaet Relokasi Investasi Tiongkok Kecil)

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Agatha Olivia Victoria