Vaksin Tembus 10 Juta Dosis, Airlangga Optimistis Ekonomi di Atas 4,5%

ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/aww.
Petugas kesehatan memeriksa tekanan darah pengemudi ojek daring sebelum disuntik vaksin Covid-19 dosis pertama di Dinning Hall, Jakabaring Sport City (JSC), Palembang, Sumatera Selatan, Senin (29/3/2021).
30/3/2021, 13.01 WIB

Pemerintah saat ini sedang berupaya mengakselerasi program vaksinasi untuk mencapai target herd immunity atau kekebalan kelompok setahun ke depan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis percepatan vaksinasi akan membuat tercapainya target pertumbuhan ekonomi tahun ini 4,5%-5,3%.

Program vaksinasi mencapai 10,49 juta dosis per 28 Maret 2021 yang terdiri dari pemberian vaksin virus corona suntikan pertama kepada 7,25 juta orang dan suntikan kedua 3,24 juta. "Akselerasi vaksinasi akan terus dilaksanakan guna memulihkan kepercayaan publik," ujar Airlangga dalam Forum Diskusi Publik: Optimalisasi UU Cipta Kerja sebagai Strategi Utama Akselerasi Investasi Indonesia, Selasa (30/3).

Selain vaksinasi, Airlangga menyebutkan bahwa pengendalian Covid-19 melalui pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) mikro menjadi penopang pertumbuhan ekonomi. Kebijakan tersebut untuk menyeimbangkan aspek pengendalian Covid-19 dan ekonomi.

Di sisi lain, program pemulihan ekonomi nasional (PEN) akan terus dilanjutkan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi yang tinggi. "Tahun ini alokasinya bahkan lebih tinggi dari realisasi tahun lalu," kata dia.

Pemerintah memutuskan menambah alokasi anggaran PEN 2021 menjadi Rp 699,43 triliun, lebih tinggi dari alokasi 2020 Rp 695,2 triliun dengan  realisasinya Rp 579,78 triliun. Angka ini bahkan hampir dua kali lipat dibandingkan alokasi awal dalam APBN 2020 sebesar Rp 373,2 triliun.

Anggaran PEN tahun ini meliputi belanja bidang kesehatan Rp 176,3 triliun, perlindungan sosial Rp 157,41 triliun, program prioritas Rp 125,06 triliun, dukungan UMKM dan korporasi Rp 186,81 triliun, dan insentif usaha Rp 53,86 triliun.

Undang-Undang Cipta Kerja, menurut ia, juga akan meningkatkan ekonomi RI. Alasannya, aturan tersebut akan menyederhanakan, menyinkronkan, dan mengefektifkan peraturan di Indonesia sehingga investasi tak lagi terhambat.



Ekonom LPEM FEB Universitas Indonesia Teuku Riefky berpendapat, vaksinasi akan meredam persebaran Covid-19 dan meminimalisir terjadinya gelombang kedua. "Sehingga semakin banyak divaksin, perekonomian akan semakin cepat pulih," ujar Riefky kepada Katadata.co.id, Selasa (30/3).

Dengan percepatan vaksinasi, dirinya yakin ekonomi RI bisa tumbuh di atas 4%. Maka dari itu, diharapkan tidak ada hambatan dalam pelaksanaan vaksinasi di dalam negeri.

Beberapa lembaga internasional telah merevisi proyeksi ekonomi global setahun ke depan seiring berjalannya program vaksin global. Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Cooperation and Development atau OECD) memperkirakan ekonomi dunia akan pulih dengan pertumbuhan 5,6% tahun ini dan 4,0% tahun depan. Proyeksi ekonomi Indonesia pun terkerek dari 4% menjadi 4,9%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani sebelumnya mengatakan berbagai indikator ekonomi dalam negeri seperti ekspor dan impor hingga konsumsi semen, baja, dan kendaraan niaga meningkat. "Ini berarti ada geliat ekonomi. Berbagai indikator ini yang akan terus kita dorong sehingga momentum pemulihan akan terus terjadi pada kuartal kedua," ujar Sri Mulyani dalam Temu Stakeholder untuk Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional, Kamis (25/3).

Namun, ia menekankan bahwa upaya mengendalikan kasus Covid-19 masih terus menjadi tantangan meski kini vaksinasi mulai berjalan. Masyarakat harus tetap disiplin dalam memberlakukan protokol kesehatan agar kasus tetap terkendali dan pemerintah tak perlu mengambil tindakan gas dan rem yang dapat menganggu perekonomian.

Untuk itu, menurut dia, penanganan Covid-19 masih menjadi strategi utama dalam mendorong pemulihan ekonomi tahun ini. Pemerintah pun dibantu Bank Indonesia dalam mendanai upaya tersebut.

Di sisi lain, pemerintah berupaya mengungkit ekonomi dengan memberikan berbagai stimulus, terutama untuk mendorong perekonomian. Salah satunya diberikan untuk mendorong sektor properti dan otomotif yang dinilai memiliki efek berganda.

Reporter: Agatha Olivia Victoria