Rupiah Menguat Berkat Meredanya Kekhawatiran Pasar soal Kebijakan Fed

ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc.
Ilustrasi. Rupiah menguat di tengah melemahnya mayoritas mata uang Asia.
7/6/2021, 10.11 WIB

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,17% ke level Rp 14.270 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot pagi ini, Senin (7/6). Rupiah perkasa seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi pengetatan kebijakan moneter Bank Sentral AS, The Federal Reserve.

Mayoritas mata uang Asia melemah pagi ini. Mengutip Bloomberg, yen Jepang turun 0,05%, dolar Hong Kong 0,01%, dolar Singapura 0,03%, rupee India 0,12%, yuan Tiongkok 0,04%, ringgit Malaysia 0,09%, dan baht Thailand 0,18%. Sementara dolar Taiwan menguat 0,12%, won Korea Selatan 0,48%, dan peso Filipina 0,07%.

Analis Pasar Uang Ariston Tjendra memperkirakan bahwa rupiah bisa menguat satu hari ini di rentang Rp 14.250-14.330 per dolar AS. "Kekhawatiran pasar terhadap potensi pengetatan kebijakan moneter The Fed yang lebih cepat untuk saat ini," ujar Ariston kepada Katadata.co.id, Senin (7/6).

Ia menjelaskan, data tenaga kerja AS yakni Non-Farm Payrolls (NFP) bulan Mei dirilis di bawah ekspektasi pasar. Hasil ini melegakan pelaku pasar terhadap kemungkinan Fed akan melakukan tapering atau pengetatan moneter yang lebih cepat.

The Fed merujuk pada dua indikator yaitu tingkat inflasi di atas 2% dan data tenaga kerja sebagai pertimbangan untuk menyesuaikan kebijakan moneternya. Angka inflasi di Negeri Paman Sam sudah menunjukan angka di atas 2% karena membanjirnya likuiditas akibat stimulus besar.

Meski begitu, Ariston menyebutkan bahwa Fed masih beralasan bahwa inflasi tersebut hanya sementara. "Otoritas Moneter melihat angka pekerjaan di AS belum kembali seperti sebelum pandemi sehingga belum ada alasan cukup untuk memperketat kebijakannya saat ini," ujarnya.

Suku bunga alias yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun pun menurun karena ekspektasi tersebut. Yield berhasil turun ke bawah 1,6%, yakni di kisaran 1,57%.

Kendati demikian, Ariston menilai pasar masih mewaspadai isu tapering ini. Penyebabnya, Menteri Keuangan AS Janet Yellen, dalam pernyataan terbarunya, menyakini bahwa kenaikan tingkat suku bunga AS memberikan dampak yang baik bagi perekonomian Negeri Adidaya.

Pengusaha AS meningkatkan perekrutan pada Mei 2021 dan menaikkan upah saat mereka bersaing untuk mendapatkan pekerja. Adapun jutaan orang Amerika yang menganggur masih di rumah karena mengasuh anak, cek pengangguran yang besar, dan kekhawatiran berkepanjangan atas Covid-19.

Kenaikan pertumbuhan pekerjaan ditunjukkan dalam laporan Departemen Tenaga Kerja pada hari Jumat (4/6) memberi jaminan bahwa pemulihan dari resesi pandemi tetap di jalurnya. Meski, angka tersebut meleset dari perkiraan para ekonom.

Ekonomi sedang didukung oleh vaksinasi terhadap virus, stimulus fiskal besar-besaran, dan sikap kebijakan moneter ultra-mudah Fed. Penghitungan NFP April, yang menghasilkan sekitar seperempat dari pekerjaan baru yang diperkirakan ekonom, menyebabkan kekhawatiran di antara beberapa analis dan investor bahwa pertumbuhan stagnan pada saat inflasi meningkat.

"Masih banyak orang yang menganggur, tetapi tampaknya tidak ada banyak keinginan untuk bekerja," kata Kepala Ekonom FHN Financial di New York, Chris Low dikutip dari Reuters, Senin (7/6).

NFP Mei meningkat menjadi 559 ribu pekerjaan, dari 278 ribu pada bulan April. Itu membuat lapangan kerja sekitar 7,6 juta pekerjaan di bawah puncaknya pada Februari 2020. Namun, realisasi pada bulan lalu tersebut di bawah jajak pendapat Reuters yakni 650 ribu pekerjaan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Agatha Olivia Victoria