Rupiah Diramal Anjlok ke 14.350 per US$ Tertekan Rekor Inflasi AS

ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU
Ilustrasi. Rupiah dibuka menguat pada perdagangan hari ini.
Penulis: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
13/1/2022, 09.37 WIB

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,09% ke level Rp 14.310 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot hari ini. Rupiah diramal berbalik melemah terimbas rilis data inflasi AS yang mencapai rekor tertingginya dalam empat dekade terakhir.

Mengutip Bloomberg, rupiah bergerak melemah ke Rp 14.314 pada pukul 09.15 WIB dari posisi pembukaan, tetapi masih menguat dibandingkan penutupan kemarin di Rp 14.324 per dolar AS.

Mata uang Asia lainnya bergerak bervariasi terhadap dolar AS. Penguatan dialami yen Jepang 0,02% bersama dolar Taiwan 0,03%, won Korea Selatan 0,11%%, peso Filipina 0,12% dan ringgit Malaysia 0,23%. Sementara dolar Hong Kong melemah 0,02% bersama dolar Singapura 0,04%, rupee India 0,01% dan bath Thailand 0,13%, sedangkan yuan Cina stagnan.

Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan terdepresiasi ke Rp 14.350 per dolar AS hari ini, dengan potensi penguatan di level Rp 14.300 per dolar AS. Pelemahan nilai tukar terimbas rilis data inflasi AS yang kembali mencapai rekor tertingginya.

"Data ini mendukung kebijakan kenaikan suku bunga acuan AS yang mungkin dimulai di bulan Maret," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Kamis (13/1).

Inflasi AS bulan lalu melonjak ke 7% secara tahunan. Ini merupakan rekor tertinggi sejak Juni 1982 atau dalam 40 tahun. Kenaikan bulan lalu juga menandai kenaikan harga-harga yang lebih cepat dari inflasi 6,8% pada bulan November. Inflasi tinggi di akhir tahun terutama didorong kenaikan harga akomodasi sewaan dan mobil bekas.

Inflasi inti sepanjang tahun lalu mencapai 5,5%. Ini adalah kenaikan tahun-ke-tahun terbesar sejak Februari 1991 dan mengikuti kenaikan 4,9% di bulan November. Ekonom memperkirakan inflasi di AS mencapai puncaknya pada Desember 2021 dan Maret 2022 berkat perbaikan di sisi rantai pasok. Meski demikian, kekhawatiran penyebaran Omicron yang meluas juga membayangi laju pemulihan rantai pasok.

Rilis data inflasi ini semakin memperkuat rencana bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed) untuk memperketat moneternya. The Fed akan mengakhiri quantitative easing dalam rangka pandemi mulai Maret mendatang. Setelah itu, The Fed diperkirakan akan segera menaikkan bunga acuannya. Perkiraan pasar bunga acuan bisa naik tiga hingga empat kali di tahun ini.

"Sebagai antisipasi, pasar mungkin menarik sebagian portofolio aset berisikonya dan kembali ke aset dollar sehingga dollar bisa menguat dan berpeluang menekan rupiah," kata Ariston.

Meski demikian, dia juga mengatakan, adanya rencana pembukaan ekspor batu bara dalam negeri bisa menahan laju pelemahan rupiah. "Ekspor ini menambah dukungan ke surplus neraca perdagangan  yang bisa meningkatkan suplai dolar AS sehingga nilai tukar rupiah bisa bertahan terhadap dolar AS," kata Ariston.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengumumkan, kembali membuka ekspor batu bara secara bertahap mulai Rabu malam (12/1). Pemerintah telah memberi izin berlayar untuk 37 kapal sejak kemarin. Meski demikian, pemerintah belum sepenuhnya mencabut larangan ekspor yang berlaku hingga akhir bulan ini.

Luhut menjelaskan, pemberian izin ekspor ini perlu dilakukan untuk menghindari risiko terjadinya kebakaran jika batubara tersebut terlalu lama dibiarkan. Namun, ia menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan batubara yang menyuplai kapal-kapal tersebut akan dikenakan denda berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 139 Tahun 2021 jika belum memenuhi kewajiban DMO dan/atau kontrak kepada PLN di tahun 2021.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Abdul Azis Said