Rupiah Diramal Loyo ke 14.400/US$ Tertekan Dampak Perang Rusia-Ukraina

ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU
Ilustrasi. Rupiah diramal anjlok lebih dari Rp 14.400 per dolar AS terimbas kekhawatiran kenaikan inflasi akibat perang Rusia dan Ukraina.
Penulis: Abdul Azis Said
Editor: Agustiyanti
4/3/2022, 09.46 WIB

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 14 poin ke level Rp 14.380 per dolar AS di pasar spot pagi ini. Rupiah diramal anjlok lebih dari Rp 14.400 per dolar AS terimbas kekhawatiran kenaikan inflasi akibat perang Rusia dan Ukraina.

Mengutip Bloomberg, rupiah melanjutkan penguatan ke Rp 14.377 per dolar AS pada pukul 09.40 WIB. Ini semakin jauh dari posisi penutupan kemarin di Rp 14.394 per dolar AS.

Mayoritas mata uang Asia lainnya melemah. Dolar Singapura melemah 0,23% bersama dolar Taiwan 0,1%, won Korea Selatan 0,48%, peso Filipina 0,4%, rupee India 0,26%, ringgit Malaysia 0,01% dan bath Thailand 0,07%. Sementara, yen Jepang, dolar Hong Kong dan yuan Cina kompak stagnan.

Analis pasar uang Ariston Tjendra memperkirakan rupiah masih akan tertekan ke kisaran Rp 14.450 per dolar AS, dengan potensi penguatan di kisaran Rp 14.370 per dolar AS. Sentimen pelemahan dipengaruhi kekhawatiran naiknya inflasi global akibat perang Rusia dan Ukraina.

"Rupiah masih berpotensi melemah hari ini dengan kekhawatiran kenaikan inflasi yang bisa menekan pertumbuhan ekonomi dalam negeri dan global akibat perang," kata Ariston kepada Katadata.co.id, Jumat (4/3).

Perang telah mendorong kenaikan harga komoditas termasuk energi. Harga minyak mentah telah bertahan di atas US$ 100 per barel beberapa hari terakhir dan belum ada tanda-tanda akan turun. 

Kenaikan harga komoditas termasuk energi bisa mendorong kenaikan barang konsumsi dan ini bisa menekan daya beli masyarakat yang pada akhirnya melambatkan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Surplus neraca perdagangan juga bisa terganggu jika harga minyak mentah terus naik hingga ujung-ujungnya juga akan kembali menekan rupiah.

"Kenaikan inflasi global khususnya di AS bisa mendorong Bank Sentral AS (The Fed) bertindak lebih agresif dalam menaikan tingkat suku bunga acuannya dan ini bisa mendorong penguatan dolar AS," kata Ariston.

The Fed diperkirakan mengumumkan kenaikan bunga acuannya pada pertemuan bulan ini yang dijadwalkan pada 15-16 Maret. Gubernur The Fed Jerome Powell dalam pertemuan dengan Kongres AS kemarin mengatakan perang Rusia dan Ukraina memperumit kondisi ekonomi AS yang kini sudah dibebani kenaikan inflasi. Powell menyebut rencana kenaikan bunga pada pertemuan ini diperkirakan masih berlanjut.

"Dengan inflasi jauh di atas 2% dan pasar tenaga kerja yang kuat, kami memperkirakan akan tepat untuk menaikkan kisaran target suku bunga dana federal pada pertemuan kami di bulan ini," kata Powell dikutip dari CNBC Internasional, Kamis (3/3).

Senada dengan Ariston, analis pasar uang Bank Mandiri Rully A Wisnubroto memperkirakan, volatilitas di pasar masih tinggi akibat belum adanya tanda-tanda perang Rusia-Ukraina akan reda. Rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp 14.345 per dolar AS hingga Rp 14.398 per dolar AS.

"Adanya kenaikan kasus penyebaran Covid-19 akan memberikan sentimen negatif ke rupiah, kemungkinan akan naik lagi beberapa hari ke depan karena libur panjang pekan ini," kata dia kepada Katadata.co.id.

Pemerintah mencatat kasus baru Covid-19 pada 3 Maret 2022 mencapai 37.259 kasus. Sekalipun turun dibandingkan hari sebelumnya, jumlahnya masih lebih tinggi setelah pada awal pekan ini setelah sempat turun di kisaran 25 ribu kasus per hari. 

Meski demikian, masih cukup derasnya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik beberapa waktu terakhir berpotensi menahan pelemahan tidak terlalu dalam.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Abdul Azis Said