Lebih Baik dari AS & Cina, Ekonomi RI Diramal Tumbuh 5% pada Kuartal 2
Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal II masih akan mencapai di atas 5%. Optimisme tersebut muncul di tengah perlambatan ekonomi banyak negara, termasuk Amerika Serikat dan Cina.
Menteri Keuangan sekaligus Ketua forum Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) Sri Mulyani menyebut optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi yang masih kuat ini tercermin dari konsumsi yang masih sangat kuat. Keyakinan konsumen masih tinggi terutama semenjak momentum Ramadan dan lebaran.
"Kuartal II 2021 itu tumbuhnya di atas 7% jadi basenya cukup tinggi. Namun, kita memperkirakan kuartal kedua ini masih akan bertahan di atas 5%," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers KSSK, Senin (1/8).
Bendahara negara itu menyebut pertumbuhan yang kuat bukan hanya didorong oleh konsumsi, tetapi juga investasi dan ekspor. Investasi diperkirakan tumbuh lebih tinggi dari kuartal pertama. Begitu juga ekspor yang masih sangat kuat sepanjang April-Juni 2022.
Senada dengan Sri Mulyani, Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut perekonomian masih melanjutkan pemulihan pada kuartal kedua lalu. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 5,05% pada kuartal kedua ini, sedikit lebih tinggi dari kuartal I 5,01%.
"Konsumsi swasta terus naik sejak Ramadan, karena mobilitas yang semakin baik sehingga meningkatkan konsumsi swasta, dna juga kinerja ekspor yang baik serta didorong dari kebijakan fiskal," kata Perry dalam acara yang sama dengan Sri Mulyani.
Menurut Perry, pertumbuhan ekonomi memang meningkat tetapi belum benar-benar pulih Ia beralasan, konsumsi swasta baru meningkat saat momentum Ramadan dan lebaran kemarin. Karenanya, masih perlu dukungan agar perekonomian terus naik.
Komentar Perry soal kondisi perekonomian domestik tersebut memberi sinyal suku bunga rendah masih akan dipertahankan. BI mempertimbangkan dua indikator utama sebelum menarik bunga, yakni inflasi inti dan proyeksi pertumbuhan ekonomi. Apalagi, Perry menyebut inflasi inti masih sangat rendah, inflasi harga bergejolak yang menjadi penyumbang inflasi headline juga diperkirakan mulai mereda di beberapa bulan mendatang.
Realisasi pertumbuhan ekonomi untuk kuartal kedua akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada akhir pekan ini, Jumat (5/8). Jika ramalan Kemenkeu dan BI tidak meleset, berarti ekonomi kuartal II masih tumbuh kuat saat sejumlah ekonomi utama dunia justru melambat. Ekonomi AS pekan lalu diumumkan terkontraksi 0,9% pada kuartal kedua, Cina juga melambat yang hanya tumbuh 0,4%.