Tepis Fenomena Rojali, Airlangga Sebut Pola Belanja Masyarakat Beralih ke Online

Katadata/Fauza Syahputra
Suasana pengunjung di pusat perbelanjaan di Jakarta, Rabu (30/7/2025). Badan Pusat Statistik (BPS) menilai fenomena “rojali” atau rombongan jarang beli belum tentu mencerminkan kemiskinan, namun tetap penting dipantau sebagai sinyal tekanan ekonomi, terutama di kalangan masyarakat rentan.
6/8/2025, 16.48 WIB

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menepis adanya fenomena rombongan jarang beli alias Rojali dan rombongan hanya nanya atau Rohana. Fenomena ini muncul di pusat perbelanjaan yang kerap dikaitkan karena daya beli masyarakat masih tertekan.

Airlangga menilai fenomena tersebut hanyalah dibuat-buat, karena saat ini masyarakat tengah beralih ke belanja daring.

“Konsumsi dari masyarakat ini terlihat shifting lari ke belanja online,” kata Airlangga dalam konferensi pers di Gedung Kemenko Perekonomian, Selasa (6/8) malam.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Airlangga menyebut penjualan ritel dan marketplace mengalami peningkatan. Produk yang paling banyak dibeli secara daring antara lain kosmetik, personal care, serta perlengkapan rumah tangga dan perkantoran.

Pertumbuhan sektor ritel daring dan marketplace pada kuartal II 2025 tercatat mencapai 7,55% secara kuartalan. Kenaikan signifikan terlihat pada penjualan produk personal care dan kosmetik yang tumbuh 17%, serta produk rumah tangga dan perkantoran yang melonjak 29,38%.

“Ini menunjukkan bahwa terkait isu Rohana dan Rojali ini, isu yang ditiup-tiup. Jadi faktanya berbeda dan tentu ini yang harus kita lihat,” ujar Airlangga.

Benarkah Fenomena Rojali Tidak Ada?

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Fadhil Hasan menilai fenomena Rojali dan istilah sejenis lainnya memang terjadi.

“Menurut saya, fenomena Rojali dan Rohana itu ada. Ekspresi Rojali-Rohana itu tidak mungkin muncul kalau kita tidak melihat adanya fenomena tersebut,” kata Fadhil dalam diskusi publik Indef, Rabu (6/8).

Menurut Indef, pada dasarnya fenomena tersebut memang ada. Bahkan juga sudah dikonfirmasi oleh pengusaha..

Ekonom Kepala Pusat Industri, Perdagangan, dan Investasi Indef Andry Satrio Nugroho mengatakan pihaknya tela mencoba mengkonfirmasi data industri pengolahan yang memberikan banyak kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) kuartal II 2025.

Berdasarkan data BPS, pertumbuhan industri pengolahan mampu mencapai 5,68% dengan kontribusinya terhadap PDB hingga 18,67%.

Begitu juga pertumbuhan sektor pertanian 1,65% dengan kontribusi 13,83% terhadap PDB 13,83%, perdagangan dengan pertumbuhan 5,37% dan kontribusi 13,02% terhadap PDB, konstruksi dengan pertumbuhan 4,98% dan kontribusi 9,48% terhadap PDB, dan industri pertambangan tumbuh 2,03% dengan kontribusi 8,59% terhadap PDB.

“Tapi ketika kami coba untuk konfirmasi pengusaha, justru triwulan II tidak terlihat begitu tinggi,” kata Andry.

Bahkan, Andry menyebut fenomena Rojali dan Rohana menjadi salah satu yang dorong kinerja dari perdagangan atau industri retail menurun. Bahkan tidak seperti tahun-tahun sebelumnya.

Anak Muda Betah ke Mal Tanpa Belanja

Sejumlah anak muda cenderung menganggap fenomena ini sebagai sesuatu yang wajar karena menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Selama tidak ada aturan yang dilanggar, maka tak ada yang salah dengan datang ke mall hanya untuk berjalan-jalan.

Meuthia Nafasya (25) salah satunya. Karyawan swasta asal Bogor, pergi ke mal bukan untuk belanja. “Seringnya cuma jalan-jalan, lihat-lihat barang lucu buat referensi. Paling sering ke mal buat makan,” kata Meuthia kepada Katadata.co.id, Senin (21/7).

Ia menilai rojali wajar, meski tentu berpengaruh bagi gerai yang sepi pembeli. Hal serupa dirasakan Karina Rahma (25), karyawan di Jakarta Selatan. Dia sering kali hanya untuk cuci mata, terutama di akhir bulan.

Berbeda dengan Amalia Nauvali (33), ibu rumah tangga yang juga guru. Ia mengaku ke mal biasanya karena ada kebutuhan, tapi sesekali hanya jalan-jalan. “Kadang sekalian makan, ngadem, atau jalan-jalan. Hitung-hitung olahraga gratis,” ujarnya.

Ia juga tak mempermasalahkan fenomena rojali. “Setidaknya mereka bayar parkir. Kalau tergoda, ya bisa jadi beli cemilan atau minuman,” kata Amalia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti