Airlangga Minta Danantara Jelaskan Kepastian Arah Fiskal RI ke Moody's
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meminta Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menjelaskan arah fiskal Indonesia ke lembaga pemeringkat Moody’s.
Permintaan ini untuk merespons langkah Moody's yang menurunkan outlook kredit Indonesia. Laporan Moddy's menyoroti kepastian kebijakan hingga komunikasi publik pemerintah.
"Sekarang semuanya masuk Danantara yang memerankan fungsi investasi. Ini yang perlu penjelasan," kata Airlangga di Jakarta, Sabtu (7/2) dikutip dari Antara.
Airlangga mengatakan, Moody’s perlu mendapatkan penjelasan terkait arah fiskal Indonesia sejak munculnya Danantara. Ia menegaskan bahwa penjelasan tersebut penting agar lembaga pemeringkat tidak lagi merasa ada ketidakpastian mengenai kebijakan fiskal Indonesia.
Dia menjelaskan, sejak keberadaan Danantara, dividen yang sebelumnya masuk kas negara sebagai penerimaan negara bukan pajak (PNBP) kini dialihkan ke badan tersebut. Selain itu, Danantara juga berfungsi sebagai sovereign wealth fund yang memegang aset investasi.
"(Kebijakan fiskal) tahun ini tentu ada perbedaan di dalam anggaran, terutama terkait investasi," kata Airlangga.
Airlangga juga mengatakan, pemerintah berkomitmen menjaga defisit anggaran maksimal tiga persen. Ia juga menjanjikan rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di bawah 40 persen. "Secara makro kami jaga," katanya.
Sebelumnya, Moody’s menilai pembentukan Danantara memunculkan ketidakpastian terkait sumber pendanaan, tata kelola, dan prioritas investasi. Lembaga pemeringkat itu menyoroti besarnya kewenangan Danantara dalam mengelola aset BUMN senilai lebih dari US$ 900 miliar atau sekitar 60% PDB nominal 2025.
Moody’s melihat koordinasi kebijakan yang belum solid berpotensi menekan kredibilitas kebijakan sekaligus meningkatkan risiko liabilitas kontinjensi bagi negara.
Mereka juga menilai kewenangan Danantara dalam kebijakan dividen BUMN dapat membebani kesehatan keuangan perusahaan pelat merah, mengingat dividen menjadi sumber pendanaan utama.
Merespons hal itu, CEO Danantara Indonesia, Rosan P Roeslani mengatakan, pihaknya menjadikan laporan Moody's tersebut sebagai pengingat untuk terus memperkuat institusi, serta memperjelas arah kebijakan.
“Danantara juga akan meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan standar tata kelola di seluruh portofolio BUMN,” kata Rosan dalam keterangan resminya, Jumat (6/2).