Celios: Perang Berpotensi Picu Bengkaknya Subsidi BBM dan Pelemahan Rupiah

ANTARA FOTO/Andri Saputra/agr
Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak di SPBU Batu Anteru, Ternate, Maluku Utara, Selasa (23/12/2025).
Penulis: Reza Pahlevi
1/3/2026, 14.20 WIB

Center for Economic and Law Studies (Celios) memproyeksikan masyarakat Indonesia dapat merasakan dampak ekonomi dari perang Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS). Dampak paling utama akan terasa dari kenaikan harga minyak dunia serta potensi semakin dalamnya depresiasi rupiah. 

Direktur Eksekutif Celios mengatakan tutupnya Selat Hormuz dapat mengerek harga minyak ke rentang US$ 100-US$ 120 per barel. Kondisi diperburuk oleh ditolaknya pengajuan asuransi oleh berbagai kapal logistik yang melewati wilayah konflik.

"Situasi ini menyebabkan kesulitan importasi minyak bagi banyak negara," kata Bhima kepada Katadata.co.id, Minggu (1/3).

Indonesia sebagai importir bersih minyak akan merasakan dampak dari kenaikan harga. Simulasi APBN 2026 mencatat kenaikan setiap US$ 1 per barel minyak di atas asumsi APBN (US$ 70 per barel) akan menambah belanja negara Rp 10,3 triliun.

Menurut perhitungan Bhima, kenaikan harga minyak hingga US$ 100 - US$ 120 per barel dapat menaikkan belanja negara hingga Rp 515 triliun.

Selain itu, kondisi geopolitik menyebabkan kekhawatiran flight to quality atau aksi investor berpindah aset ke yang lebih aman seperti emas. Hal ini dapat menyebabkan pelemahan rupiah yang semakin dalam.

"Pangan rentan terdampak, terutama yang sensitif terhadap fluktuasi kurs dan gangguan rantai impor, seperti kedelai, gandum, daging," kata Bhima.

Selain itu, inflasi impor (imported inflation) akibat kenaikan harga minyak dunia juga dapat menciptakan turunnya daya beli masyarakat.

Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengerahkan pasukannya untuk menutup Selat Hormuz di tengah memanasnya situasi kawasan Timur  Tengah. Selat Hormuz adalah jalur vital perdagangan minyak dunia di selatan Iran, dilewati 30% pasokan minyak dunia.

Brigadir Jendral IRGC Ibrahim Jabari mengatakan tidak ada kapal yang boleh melintas selama penutupan.

"Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul serangan terhadap Iran," kata Jabari kepada media Lebanon Al-Mayadeen, Sabtu (28/2) waktu setempat.

Analis energi di Barclays, Inggris, memproyeksi harga minyak Brent dapat menembus US$ 100 per barel di tengah konflik Timur Tengah. Dalam perdagangan Jumat (27/2), harga spot minyak Brent ditutup sebesar US$ 73 per barel. 

"Pasar perdagangan minyak mungkin akan menghadapi ketakutan terbesarnya pada Senin (saat pasar dibuka kembali)," kata analis Barclays, dikutip dari Reuters, Sabtu (28/2).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.