Istana Godok Opsi Pembagian MBG Jadi Lima Hari per Minggu
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan Istana tengah menggodok wacana pemangkasan pembagian program Makan Bergizi Gratis atau MBG dari enam hari menjadi lima hari per minggu. Kajian ini terkait penghematan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Prasetyo menyebut, telah mengetahui usulan itu dan tengah mengkajinya. “Sedang kita finalkan,” kata Prasetyo di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (27/3).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan potensi pemangkasan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) mencapai Rp 40 triliun. Efisiensi anggaran program prioritas Prabowo Subianto ini akan dilakukan dengan memangkas pembagian MBG dari semula enam hari menjadi lima hari per pekan.
Opsi efisiensi ini disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana saat rapat bersama dengan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, di Kantor Kemenko Perekonomian, pada 16 Maret 2026.
“Jadi ada pengurangan cukup banyak. Yang dia (Dadan) bilang saja Rp 40 triliun, hitungan kasar, tapi bisa lebih,” kata Purbaya di Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat, Rabu (25/4).
Purbaya mengatakan, efisiensi ini akan diperoleh, antara lain dengan mengurangi pembagian MBG menjadi lima hari per pekan.
“Sabtu (pembagian MBG) dihentikan. MBG biasa seminggu enam hari, Pak Dadan bilang akan jadi lima hari, enggak tahu sudah diumumkan atau belum,” katanya.
Di sisi lain, Purbaya mengatakan pemotongan ini bukanlah keputusan Kemenkeu, melainkan inisiatif dari BGN. Keputusan ini diambil untuk merespons kondisi APBN yang membutuhkan efisiensi di tengah kondisi konflik geopolitik di Timur Tengah.
"Jadi jangan dibilang MBG tutup mata, enggak, dia juga melakukan efisiensi,” katanya.
Presiden Nyatakan Program MBG Tetap Berlanjut
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyatakan komitmennya untuk terus melanjutkan Program Makan Bergizi Gratis atau MBG. Ia menyatakan lebih baik anggaran yang ada untuk memberi makan rakyat daripada dikorupsi.
Prabowo mengatakan, hal itu dilakukan sebagai bentuk keberpihakan nyata negara kepada rakyat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan.
Program MBG, menurut, tidak hanya bertujuan mengatasi persoalan gizi dan gizi buruk, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia sekaligus penggerak ekonomi rakyat.
Di tengah berbagai kritik dan tantangan fiskal, Presiden Prabowo mengatakan program MBG tetap menjadi prioritas karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
“Saya akan bertahan sedapat mungkin. Daripada uang-uang dikorupsi, lebih baik rakyat saya bisa makan. Anda enggak lihat anak-anak yang stunting?” kata Prabowo dalam wawancara, yang ditulis ulang dalam keterangan pers, Minggu (22/3).
Selain dampak sosial, Presiden Prabowo menekankan program MBG memiliki dampak ekonomi yang luas melalui penciptaan lapangan kerja di berbagai sektor, mulai dari dapur produksi hingga rantai pasok pangan.
“MBG nanti, pada puncaknya, kita akan punya 31 ribu dapur. Katakanlah, untuk gampang, hitungnya 30 ribu dapur. Tiap dapur mempekerjakan 50 orang. Itu sudah 1,5 juta kerja," ujar Prabowo.