Rupiah Kian Jeblok ke Level Terlemah Sepanjang Sejarah, Dolar AS Dekati 17.700
Nilai tukar rupiah terus melemah mendekati level 17.700 per dolar AS ada perdagangan pagi ini, Senin (18/5), level terlemah sepanjang sejarah. Kurs rupiah melemah di tengah menguatnya dolar AS seiring meningkatnya sentimen risk off di pasar global.
Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan, penguatan dolar AS terjadi di tengah aksi jual besar-besaran pada berbagai aset keuangan global, mulai dari obligasi, saham, mata uang kripto, hingga mata uang negara berkembang.
“Rupiah berpotensi kembali melemah merespons sentimen risk off global. Dolar AS menguat cukup besar di tengah sell off seluruh aset,” ujar Lukman kepada Katadata, Senin (18/5).
Berdasarkan Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp 17.628 per dolar AS melemah 0,20% atau 37 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Kurs rupiah sempat menembus 17.600 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot offshore di tengah libur panjang.
Adapun hingga pukul 10.28 WIB, rupiah terus melemah ke posisi paling rendah terhadap dolar AS sepanjang sejarah di level 17.662. Sepanjang tahun ini, rupiah telah melemah 5,86%.
Meski demikian, mayoritas mata uang Asia juga melemah terhadap dolar AS pagi ini. Ringgit Malaysia melemah 0,56%, yuan Cina 0,05%, rupee India 0,21%, peso Filipina 0,04%, won Korea Selatan 0,54%, dan yen Jepang 0,11%.
Lukman menjelaskan, tekanan pasar juga datang dipicu kekecewaan investor terhadap hasil pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump yang dinilai belum memberikan solusi konkret terkait konflik AS-Iran.
Pasar sebelumnya berharap pertemuan kedua pemimpin tersebut dapat meredakan ketegangan geopolitik global, khususnya perang di Timur Tengah yang terus memicu ketidakpastian ekonomi dan keuangan dunia.
Minimnya perkembangan positif dari pertemuan tersebut mendorong investor kembali memburu aset safe haven, termasuk dolar AS.
Selain itu, ketegangan geopolitik yang masih berlangsung turut memicu kenaikan harga minyak mentah dunia. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia karena berpotensi meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah.
Lukman memperkirakan rupiah pada hari ini akan bergerak dalam kisaran 17.550 hingga 17.650 per dolar AS.