BI Sebut Modal Asing Mulai Masuk ke RI Usai Suku Bunga Acuan Naik Jadi 5,5%
Bank Indonesia menyebut, terdapat perkembangan positif terhadap aliran modal asing ke pasar keuangan domestik setelah suku bunga acuan dinaikkan menjadi 5,5%. BI melihat meningkatnya minat investor terhadap instrumen keuangan Indonesia menjadi sinyal kuat bahwa kepercayaan pasar mulai pulih di tengah gejolak global.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, penguatan arus modal masuk tercermin dari meningkatnya pembelian instrumen moneter dan surat utang pemerintah oleh investor asing dalam beberapa hari terakhir.
“Setelah kenaikan BI Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif, didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik,” kata Destry dalam keterangan resminya, Jumat (13/6).
Ia mencatat, aliran dana asing yang masuk ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) pada 10-11 Juni 2026 masing-masing mencapai Rp 15,11 triliun dan Rp 3,91 triliun.
Tak hanya itu, minat investor juga terlihat pada penerbitan perdana obligasi internasional Danantara yang berhasil mencatat penjualan hingga Rp 26,9 triliun.
“Perkembangan ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap aset-aset domestik,” ujarnya.
Bank Indonesia, menilai derasnya arus modal masuk merupakan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan yang dilakukan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan.
Selain menaikkan BI Rate menjadi 5,50%, BI juga memperkuat struktur suku bunga SRBI, memberikan insentif hedging swap bagi investor asing, membuka akses repo guna mendukung likuiditas perbankan, serta meningkatkan intensitas operasi moneter baik dalam rupiah maupun valuta asing.
“Perkembangan ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan Bank Indonesia,” kata Destry.
Perkuat Ketahanan Eksternal
BI juga memperkuat ketahanan eksternal melalui kerja sama dengan bank sentral Tiongkok dan Hong Kong. Destry menjelaskan, kerja sama antara Bank Indonesia, People's Bank of China (PBOC), dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA) menghasilkan tiga kesepakatan penting.
Pertama, memperkuat sinergi stabilitas keuangan regional. Kedua, memperkuat skema Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA). Ketiga, memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT).
Menurut Destry, langkah tersebut akan membantu mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS sekaligus mendukung stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka panjang.
Bank Indonesia memastikan akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan yang dimiliki untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta mendukung masuknya aliran modal asing, intervensi di pasar valas, penguatan instrumen moneter, dan koordinasi dengan pemerintah akan terus dilakukan secara konsisten dan terukur.
“Dengan berbagai perkembangan di atas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap dolar AS menuju level fundamentalnya,” ujar Destry.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah tren penguatan rupiah yang kembali bergerak ke bawah level Rp 18.000 per dolar AS setelah sebelumnya sempat tertekan akibat meningkatnya tensi geopolitik global dan keluarnya modal asing dari pasar negara berkembang.