Rupiah Masih Loyo, BI Naikkan Lagi Suku Bunga Acuan 25 Bps Jadi 5,75%

ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.
Editor: Agustiyanti
18/6/2026, 14.47 WIB

Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Selasa (18/6).

BI sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 bps pada bulan lalu dalam RDG bulanan dan RDG mingguan di luar siklus demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. 

Suku bunga deposit facility dinaikkan 25 bps menjadi 4,75%, sedangkan suku bunga lending facility naik 25 bps menjadi 6,25%.

"Kenaikan ini merupakan langkag lanjutan untuk semakin memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tetap tingginya ketidakpastian global," ujar Perry dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur, Kamis (18/6). 

Ia menjelaskan, keputusan ini juga merupakan langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah.

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 14.49 WIB, nilai tukar rupiah berada di posisi 17.873 per dolar AS. Posisi ini tercatat melemah 6,61% sepanjang tahun ini.

Gubernur Perry Warjiyo mengatakan, keputusan tersebut merupakan langkah lanjutan untuk 

Perry menjelaskan perkembangan negosiasi antara AS dan Iran terkait kesepakatan konflik di Timur Tengah masih dinamis. Hal ini membutuhkan kewaspadaan dan penguatan respons, serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.

Adapun BI melihat ekonomi di dalam negeri saat ini masih tumbuh sangat baik didukung permintaan domestik, serta konsumsi pemerintah seiring realisasi program prioritas, pembayaran gaji ke-13 ASN, hingga penyaluran bantuan sosial. Bank Sentral pun memperkirakan ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh dalam rentang 4,9% hingga 5,7% pada tahun ini.

"BI akan terus mengoptimalkan bauran kebijakan untuk memperkiat stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi, termasuk melalui penguatan makroprudensial longgar dan sistem pembayaran," kata dia. 

Sejumlah analis sebelumnya memperkirakan BI masih berpotensi menaikkan suku bunga acuan pada tahun ini. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai peluang kenaikan suku bunga masih terbuka pada RDG besok, meski probabilitasnya sedikit menurun dibandingkan sebelumnya.

Menurut David, penguatan rupiah dan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah memang memberikan ruang bagi BI untuk lebih berhati-hati. Namun demikian, posisi suku bunga acuan saat ini dinilai masih tertinggal dibandingkan kenaikan imbal hasil instrumen pasar keuangan domestik. 

"BI kemungkinan menaikkan lagi suku bunga kebijakannya di rapat Juni, walaupun probabilitasnya memang sedikit menurun karena penguatan rupiah dan meredanya ketegangan di Timur Tengah," ujar David kepada Katadata, Rabu (17/6).

Ia menjelaskan BI Rate saat ini masih cenderung behind the curve jika dibandingkan dengan kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) maupun Surat Berharga Negara (SBN). Selain itu, nilai tukar rupiah juga masih menyimpan risiko terhadap inflasi.

David menambahkan, kenaikan harga Pertamax beberapa waktu lalu diperkirakan belum sepenuhnya tercermin pada inflasi karena adanya efek lagging atau jeda transmisi ke harga-harga konsumen.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit yang masih relatif terjaga dinilai memberikan ruang bagi BI untuk kembali mengetatkan kebijakan moneternya.

Ekonom Bank Danamon Hosiana Situmorang juga memperkirakan BI akan kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%. Menurut Hosiana, momentum saat ini dinilai tepat bagi BI untuk memperkuat daya tarik aset domestik di tengah upaya menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia.

"Kami memperkirakan Bank Indonesia masih akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% pada 18 Juni mendatang," ujarnya.

Ia menilai langkah tersebut akan sejalan dengan berbagai kebijakan BI yang ditujukan untuk meningkatkan minat investor asing, termasuk pemberian insentif berupa diskon biaya swap hedging sebesar 10% bagi investor asing yang melakukan lindung nilai.

Di sisi lain, Head of Macroeconomics and Market Research Permata Bank Faisal Rachman memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam RDG besok.

"Setelah kejutan kenaikan 25 basis poin, kami memproyeksikan BI akan menahan suku bunga pada RDG 17-18 Juni 2026," kata Faisal.

Faisal menilai, membaiknya kondisi global setelah tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran juga menurunkan harga minyak dan tekanan inflasi global. Hal ini mendorong kembali minat investor terhadap aset berisiko (risk-on sentiment), termasuk aset-aset di negara berkembang.

Kondisi tersebut, menuru dia, mulai tercermin dari pembalikan arus modal asing dan tren penguatan rupiah dalam beberapa hari terahir.

Meski demikian, Faisal masih melihat ruang kenaikan suku bunga lanjutan sebesar 25 basis poin pada kuartal III 2026. Hal ini seiring tekanan inflasi domestik yang berpotensi meningkat akibat pelemahan rupiah sebelumnya dan telah berdampak pada kenaikan harga barang impor.

Selain itu, menurut dia, risiko defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) juga berpotensi meningkat di tengah perlambatan ekonomi global yang menekan ekspor.

"Pasar juga masih melihat The Fed akan tetap cenderung hawkish karena pasar tenaga kerja AS masih kuat dan ketidakpastian perang dagang belum sepenuhnya mereda," ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.