Rupiah Menguat Tipis ke 17.640 per US$, Pasar Cermati Gejolak AS-Iran
Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis 2 poin ke level 17.640 per dolar AS pada perdagangan Senin (7/9). Rupiah menguat di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.
Kurs rupiah sempat melemah 25 poin ke level Rp17.640 sebelum akhirnya berbalik menguat tipis pada akhir perdagangan.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang kembali memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur perdagangan dan pasokan energi global. Militer AS telah menyerang tiga kapal tanker minyak Iran pada Sabtu setelah pasukan Iran menargetkan kapal Angkatan Laut AS menggunakan rudal balistik.
Iran kemudian menyatakan telah menyerang sebuah pesawat nirawak (drone) milik Angkatan Laut AS dan memperingatkan bahwa serangan lanjutan dari AS akan memicu respons yang lebih keras.
Pejabat tinggi keamanan Iran juga mengatakan Teheran akan menetapkan zona maritim terbatas baru di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Kapal yang memasuki wilayah tersebut berpotensi menghadapi sanksi.
Ibrahim menjelaskan, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh data ketenagakerjaan yang menunjukkan perekonomian menyerap lebih banyak tenaga kerja dari perkiraan. Lebih dari 162.000 warga AS masuk ke dalam angkatan kerja pada Agustus 2026.
Angka tersebut jauh di atas estimasi 56.000 orang dan melampaui capaian Juli yang sebelumnya tercatat minus 23.000 sebelum direvisi menjadi 21.000.
Tingkat pengangguran AS tercatat 4,1%, lebih rendah dibandingkan proyeksi pejabat Federal Reserve (The Fed) sebesar 4,5% untuk akhir tahun.
Menurut Ibrahim, kuatnya penambahan tenaga kerja memberikan ruang bagi The Fed untuk lebih fokus pada aspek inflasi dalam menjalankan mandatnya. Oleh karena itu, pasar akan mencermati rilis data inflasi AS berupa Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) pada pekan ini.
Sedangkan dari sisi domestik, Ibrahim menilai pekan ini menjadi ujian terhadap fleksibilitas kebijakan moneter Indonesia. Tantangan Bank Indonesia bukan hanya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan stimulus moneter tidak diikuti peningkatan volatilitas rupiah dan keluarnya modal asing.
Pasar juga masih dibayangi risiko bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Salah satunya, erupsi Gunung Anak Krakatau sejak Jumat malam, 4 September hingga akhir pekan yang berdampak terhadap sektor penerbangan dan aktivitas masyarakat.
Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, sebaran abu vulkanik menyebabkan penundaan dan pembatalan lebih dari 1.500 jadwal penerbangan di sedikitnya delapan bandara. Sekitar 170.000 penumpang juga dilaporkan tertahan di berbagai lokasi.
Risiko ekonomi domestik semakin kompleks dengan bencana alam lainnya, termasuk pembakaran lahan gambut di Kalimantan dan sebagian wilayah Sumatra serta kondisi Sungai Barito yang mengering. Kondisi tersebut menghambat transportasi batu bara dan berpotensi mengganggu rantai pasok.
"Pelaku pasar mencermati penanganan bencana sambil terus menghitung potensi dampaknya terhadap aktivitas ekonomi, terutama jika gangguan transportasi dan dibatasinya aktivitas luar rumah berlangsung lebih lama," ujar Ibrahim.