Krisis Iklim Bukan Krisis Informasi

Katadata/ Bintan Insani
Penulis: Marlistya Citraningrum
2/9/2026, 06.05 WIB

Pada akhir Juli 2026, BMKG memperingatkan meningkatnya risiko El Nino dengan kemungkinan intensitas yang sangat kuat dan dampak yang diperkirakan dapat berlangsung hingga awal 2027. Pertanyaan utamanya bukan lagi seberapa panas kemarau tahun ini atau seberapa besar pengaruhnya pada kebakaran hutan dan kekeringan, melainkan: seberapa siap kita menghadapinya? 

El Nino tahun ini seharusnya dipahami sebagai sebuah ujian ketahanan nasional. Dampaknya tidak akan seragam. Sebuah wilayah dapat menghadapi kekeringan dan krisis air. Sementara wilayah lain menghadapi kebakaran hutan, penurunan produktivitas pertanian, gangguan kesehatan, atau tekanan pada pasokan energi. 

Dengan intensitas yang semakin menguat, El Nino menguji hampir seluruh lini ekosistem sosial dan ekonomi Indonesia: ketersediaan air, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, pengendalian kebakaran lahan dan hutan, hingga keandalan  sistem energi.  

Ironisnya, persoalan utama kita bukan kekurangan informasi. Kita justru menghadapi kesenjangan antara peringatan dan tindakan: informasi mengenai risiko sudah tersedia, tetapi belum selalu diterjemahkan menjadi keputusan, anggaran, dan tindakan di lapangan. 

Dan El Nino hanya salah satu contohnya. Kita sudah merasakan berbagai dampak krisis iklim lain yang turut menguji ketahanan air, pangan, kesehatan, infrastruktur, dan energi. Persoalan yang lebih besar bukan sekadar bagaimana kita merespons satu fenomena iklim, melainkan apakah sistem pengambilan keputusan kita mampu bekerja  ketika informasi mengenai risiko sudah tersedia. 

Dari Informasi Menjadi Keputusan 

Kita hidup dalam era keberlimpahan sains iklim. Proyeksi dan model cuaca, indeks kekeringan dan curah hujan, hingga sistem peringatan dini dapat diproduksi semakin cepat dan rinci. 

Namun informasi tidak otomatis menjadi keputusan yang terukur. 

Bagi petani, misalnya, informasi mengenai kemarau panjang baru bermakna apabila diikuti penyesuaian kalender tanam, ketersediaan varietas tahan kering, dukungan pengelolaan air, serta kesiapan irigasi. Pemerintah daerah juga perlu memetakan cadangan air, menentukan prioritas distribusi, dan mengantisipasi dampak sosial ketika sumber air semakin terbatas. 

Hal serupa berlaku pada sektor lain. Peringatan meningkatnya risiko kebakaran tidak cukup berhenti pada peta kerawanan. Ia harus diikuti kesiapan personel, peralatan, tata kelola lahan, sistem pemantauan, dan mekanisme respons di wilayah berisiko tinggi. 

Rantai langkah inilah yang kita butuhkan, bukan hanya data-laporan-berita, melainkan  data-pemahaman risiko-keputusan-tindakan. 

Persoalannya semakin kompleks karena risiko iklim tidak bekerja secara sektoral. Ia bersifat berantai (cascading), ketika satu gangguan memicu tekanan pada sistem lain. 

Sektor energi memberikan contoh yang jelas. Gelombang panas dapat meningkatkan konsumsi listrik untuk pendingin ruangan. Pada saat yang sama, kekeringan dapat menurunkan debit air bagi pembangkit listrik tenaga air, sementara ketersediaan air juga penting bagi operasi pembangkit termal. Satu episode cuaca ekstrem dapat  menciptakan tekanan ganda: permintaan energi meningkat ketika kemampuan sistem memasok energi justru menghadapi tekanan. 

Dampaknya kemudian merambat ke perekonomian melalui peningkatan biaya energi, gangguan industri dan perdagangan, hingga bertambahnya beban rumah tangga. 

Risiko iklim, dengan demikian, bukan hanya persoalan meteorologi. Ia dapat berubah  menjadi persoalan ketahanan infrastruktur, produktivitas, biaya ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. 

Jika kementerian, pemerintah daerah, dan pelaku usaha hanya melihat risiko dari sektornya masing-masing, kita berpotensi gagal melihat risiko sistemiknya. 

Kesiapan iklim harus menjadi bagian dari arsitektur pengambilan keputusan. Setiap peringatan penting perlu menjawab: siapa yang harus bertindak, apa yang harus  dilakukan, kapan dimulai, sumber daya apa yang tersedia, dan bagaimana  efektivitasnya diukur? 

Peringatan tanpa protokol tindakan pada dasarnya hanya memindahkan informasi,  bukan mengurangi risiko. 

Komunikasi adalah Infrastruktur Kesiapan 

Dalam keruwetan tersebut, komunikasi publik memainkan peran yang jauh lebih  penting daripada sekadar menyebarkan informasi.

Mengkomunikasikan risiko iklim bukan lagi upaya untuk menyederhanakan jargon  ilmiah atau menggerakkan kesadaran secara parsial. 

Masyarakat tidak membutuhkan terminologi teknis. Mereka membutuhkan jawaban praktis: apakah listrik tetap andal? Apakah pasokan air bersih aman? Apa yang harus dilakukan ketika kekeringan  berkepanjangan? Siapa yang dapat dihubungi ketika terjadi krisis? Kebijakan yang diambil pemerintah hari ini membuat masyarakat lebih terlindungi ketika risiko benar benar datang? 

Yang masih sering terjadi adalah komunikasi berhenti pada pengumuman. Pernyataan  seperti “curah hujan di bawah normal”, “potensi kebakaran meningkat”, atau “ada  potensi bencana hidrometeorologi” memang tidak salah. Namun, pertanyaan  terpenting yaitu “apa dampaknya bagi saya dan apa yang harus saya lakukan?”; belum  tentu terjawab. 

Komunikasi risiko yang efektif harus memetakan siapa yang paling rentan, risiko apa  yang mereka hadapi, kapan risiko meningkat, dan tindakan apa yang tersedia. Satu  informasi ilmiah dapat membutuhkan bentuk komunikasi dan keputusan yang berbeda. 

Ketidakpastian Bukan Alasan Tidak Bertindak 

Kita juga perlu lebih dewasa dalam mengomunikasikan ketidakpastian sains. Proyeksi cuaca dan iklim bekerja dengan probabilitas, dengan variabel yang beragam dan kondisi  atmosfer yang dinamis. Karena itu, kita mungkin tidak selalu dapat memastikan kapan  suatu kejadian ekstrem terjadi, seberapa kuat intensitasnya, atau persis di mana  dampaknya akan paling besar. 

Namun, ketidakpastian mengenai besaran dan waktu risiko tidak berarti kita tidak mengetahui penyebab dan arah perubahannya.  

Krisis iklim bukan semata-mata rangkaian fenomena alam yang datang tanpa sebab. Pemanasan global yang disebabkan aktivitas manusia telah meningkatkan suhu rata rata bumi dan mengubah kondisi dasar tempat berbagai kejadian ekstrem berlangsung. 

Artinya, keputusan kita hari ini tidak hanya menentukan seberapa siap menghadapi  risiko yang sudah ada, tetapi juga ikut menentukan seberapa besar risiko yang akan kita  hadapi di masa depan. 

Probabilitas dalam proyeksi iklim bukan pembenaran untuk menunda tindakan.  Sebaliknya, ia mensyaratkan pendekatan no-regret action: mengambil langkah antisipatif yang tetap memberikan manfaat dalam berbagai skenario, termasuk ketika  skenario terburuk pada akhirnya tidak terjadi. 

Memperbaiki tata kelola air, memperkuat sistem peringatan dini, memastikan infrastruktur vital memiliki rencana contingency, meningkatkan kesiapan pemadaman kebakaran, dan melindungi kelompok rentan adalah contoh tindakan yang tetap relevan  meski skenario terburuk tidak terjadi. 

Namun, kesiapsiagaan tidak boleh berhenti pada adaptasi. Jika aktivitas manusia turut  memperbesar risiko, maka mengurangi sumber risiko harus berjalan bersamaan. Transisi energi, efisiensi energi dan air, penguatan infrastruktur, serta pengurangan  emisi merupakan bagian dari kesiapsiagaan jangka panjang. 

Kita tidak dapat terus-menerus hanya memperbaiki kemampuan menghadapi risiko  yang semakin besar tanpa mengurangi faktor yang membuat risiko tersebut meningkat. 

Mendorong Komunikasi Kontekstual 

Pola komunikasi seragam (one-size-fits-all) tidak lagi memadai dalam kondisi krisis. Pembuat kebijakan membutuhkan informasi mengenai risiko fiskal, infrastruktur, dan  dampak sosial ekonomi. Pelaku usaha membutuhkan kepastian mengenai rantai pasok dan keberlanjutan produksi. Pemerintah daerah membutuhkan informasi yang dapat  diterjemahkan menjadi prioritas intervensi. Masyarakat membutuhkan panduan yang  jelas dan dukungan untuk mengurangi risiko. 

Media pun membutuhkan konteks agar peringatan iklim tidak berhenti sebagai berita sensasional, tetapi membantu publik memahami probabilitas, dampak, kelompok  rentan, dan respons yang diperlukan. 

Ukuran keberhasilan komunikasi iklim juga bukanlah seberapa sering El Nino atau krisis  iklim diliput media atau mendominasi percakapan media sosial, melainkan dari  seberapa jauh informasi itu mampu mengubah keputusan dan memperkuat  kesiapsiagaan nasional. 

Pada akhirnya, pertanyaan yang harus kita ajukan bukan hanya apakah pemerintah sudah mengeluarkan peringatan, tetapi apakah peringatan itu telah mengubah keputusan. 

Sudahkah perencanaan dan anggaran disesuaikan dengan risiko iklim? Apakah pemerintah daerah memiliki rencana contingency yang operasional? Apakah infrastruktur publik dirancang tangguh terhadap iklim? Apakah pelaku usaha mengantisipasi gangguan rantai pasok? Dan apakah masyarakat tahu apa yang harus  dilakukan ketika risiko meningkat? 

El Nino akan berlalu dan musim akan berganti. Namun, risiko iklim akan terus muncul  dalam bentuk yang berbeda. 

Kita tidak membutuhkan lebih banyak peringatan jika peringatan yang sudah ada tidak  menghasilkan tindakan. Yang kita butuhkan adalah sistem yang memastikan setiap  peringatan mengubah cara kita mengambil keputusan.

Sebab kesiapan iklim bukan diukur dari seberapa baik kita menjelaskan risiko, melainkan dari seberapa cepat kita bertindak ketika risiko itu sudah diketahui.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Marlistya Citraningrum
Direktur Komunikasi dan Penjangkauan Institute for Essential Services Reform

Catatan Redaksi:
Katadata.co.id menerima tulisan opini dari akademisi, pekerja profesional, pengamat, ahli/pakar, tokoh masyarakat, dan pekerja pemerintah. Kriteria tulisan adalah maksimum 1.000 kata dan tidak sedang dikirim atau sudah tayang di media lain. Kirim tulisan ke opini@katadata.co.id disertai dengan CV ringkas dan foto diri.