Sinyal Risiko dan Peluang di Balik Terpuruknya Rupiah

Diolah Chatgpt/Agustiyanti
Ilustrasi. Rupiah nyaris menembus 17.400 per dolar AS pada pekan lalu.
Penulis: Agustiyanti
4/5/2026, 10.57 WIB

Akhir tahun lalu, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo percaya diri mampu menjaga kurs rupiah di level 16.500 per dolar AS sepanjang 2026. Namun faktanya berbeda, rupiah justru kian melemah hingga beberapa kali menembus level baru. Tekanan geopolitik akibat perang di Timur Tengah diklaim menjadi penyebabnya.

Berdasarkan data Jisdor yang dipublikasikan BI, kurs rupiah pada Kamis (30/4) dipatok di level 17.378 per dolar AS. Dibandingkan poisisi akhir tahun lalu, kurs rupiah melemah 658 poin atau 3,9%.

Rupiah bahkan telah kehilangan nilainya hingga 1.912 poin atau melemah 12,36% sejak Presiden Prabowo Subianto menjabat pada 20 Oktober 2024.

Pelemahan Rupiah (Diolah Chatgpt/Agustiyanti)
 

Adapun jika melihat data Bloomberg, kurs rupiah sempat menyentuh 17.393 per dolar AS pada Kamis (30/4) siang, level terlemah sepanjang sejarah.

Apa Penyebab Rupiah Melemah?

Pelemahan dolar AS pada Kamis (30/4) terjadi usai Bank Sentral AS mengumumkan suku bunga bertahan di level 3,5% hingga 3,75% dan memberikan sinyal perubahan kebijakan yang lebih ketat.

Ketua The Fed Jerome Powell mengungkapkan bahwa semakin banyak anggota Federal Open Market Committee (FOMC) yang mulai mempertimbangkan perubahan sikap kebijakan dari dovish atau longgar menjadi lebih netral. Sebelum perang Iran-AS pecah dan memicu inflasi, The Fed berpeluang menurunkan suku bunga acuan. 

Suku bunga AS yang tetap atau berpotensi naik membuat investor berbondong-bondong menempatkan dananya dalam dolar AS. Indeks dolar AS menguat 0,1% ke level 98,155. 

Selain The Fed, kondisi geopolitik di Timur Tengah yang memanas dan mendorong harga minyak dunia juga menekan rupiah. Direktur PT Traze Andalan Future Ibrahim menjelaskan,  indek dolar naik setelah Presiden AS Donald Trump bersiap memblokade angkatan laut Iran secara berkepanjangan yang meningkatkan ketidakpastian di Timur Tengah. 

"Harga minyak mentah dunia terus mengalami kenaikan, dengan Brent Crude Oil sempat mencapai US$ 122 per barel dan WTI Crue Oil mencapai US$ 104 per barel. Kenaikan ini membuat kebutuan dolar AS untuk membeli minyak mentah semakin tinggi," ujar Ibrahim, akhir pekan lalu.

Ibrahim meramal rupiah berpotensi melemah hingga menembus 17.5o0 per dolar AS pada tahun ini. Ramalan serupa juga terungkap dalam riset yang dikeluarkan tim ekonomi PT Bank Negara Indonesia Tbk. 

INFOGRAFIK: Rupiah Melemah di Tengah Tekanan Global (Katadata)

 

Bank Indonesia juga menilai ketidakpastian geopolitik, khususnya di Timur Tengah masih  menjadi faktor risiko utama bagi stabilitas nilai tukar. Perry mengatakan, BI akan menjaga rupiah, antara lain dengan menyesuaikan struktur suku bunga pasar melalui kenaikan yield instrumen seperti SRBI untuk menjaga daya tarik aset domestik. 

"Langkah ini juga dibarengi komunikasi intensif dengan investor global guna memperkuat kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia," kata Perry, akhir pekan lalu. 

Ia menjelaskan, kerangka kebijakan BI kini mengandalkan integrated monetary policy mix yang terdiri dari tiga pilar utama: kebijakan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah dan inflasi, intervensi di pasar valuta asing untuk meredam gejolak eksternal, serta pengelolaan likuiditas domestik guna memastikan kecukupan dana di sistem keuangan. Ketiga instrumen ini dijalankan secara simultan dan fleksibel mengikuti dinamika global.

Rupiah Tertinggal di Kawasan

Saat ini, kurs rupiah telah jauh dari asumsi yang dibuat pemerintah dalam APBN 2026 sebesar 16.500 per dolar AS. Pemerintah dan Bank Indonesia beberapa kali menyebut pelemahan rupiah disebabkan oleh faktor global dan masih sejalan dengan mata uang di kawasan. Namun benarkah demikian?

Faktanya, tak semua mata uang negara di ASEAN melemah terhadap dolar AS. Mengacu data Bloomberg pada Jumat (1/5), ringgit Malaysia dan dolar Singapura justru menguat secara tahunan atau year to date (ytd), masing-masing 2,2% dan 0,9%.

Sedangkan baht Thailand dan Vietnam dong melemah terhadap dolar AS, tetapi tak sedalam rupiah. 

Pelemahan Rupiah (Diolah dengan Chatgpt/Agustiyanti)
 

Peneliti Center of Macroeconomic and Finance Institute for Development of Economics and Finance Abdul Manaf Pulungan menilai kurs rupiah memang semakin tertinggal dibandingkan mata uang negara lain di kawasan. Menurut dia, pelemahan rupiah yang lebih dalam dibandingkan beberapa negara ASEAN lainnya tak lepas dari faktor risiko yang dilihat investor terhadap Indonesia.

Hal ini terlihat dari credit default swap (CDS) Indonesia yang sudah berada di atas level 100. Kondisi tersebut menandakan investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk menempatkan dana di dalam negeri. Salah satu penyebabnya adalah kekhawatiran terkait disiplin fiskal yakni potensi melebarnya defisit APBN.

“Ketika CDS meningkat, investor melihat risiko lebih tinggi. Jika imbal hasil tidak menarik, mereka bisa keluar dan mencari instrumen lain yang lebih menguntungkan,” katanya, akhir pekan lalu

Situasi ini menjadi semakin menantang karena pasar valuta asing domestik relatif dangkal, dengan transaksi harian sekitar US$ 7 miliar, jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara lain di kawasan. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah menjadi lebih mudah terjadi ketika terjadi arus keluar modal. 

Adapun berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, investor asing terpantau keluar dari pasar modal hingga akhir pekan lalu mencapai  Rp 49,87 triliun. Sedangkan berdasarkan data Kementerian Keuangan hingga pertengahan bulan lalu, investor asing terpantau melepas surat berharga negara atau SBN mencapai Rp 13,49 triliun. 

 

Apa Dampaknya Jika Rupiah Terus Melemah?

Abdul mengatakan, pelemahan nilai tukar bagi sebenarnya memberikan keuntungan, terutama bagi beberapa negara seperti Korea Selatan. Nilai tukar yang melemah membuat daya saing barang yang diekspor sebuah negara menjadi lebih kompetitif. 

“Korea bisa memanfaatkan pelemahan mata uangnya untuk mendorong ekspor karena basis industrinya kuat. Indonesia tidak dalam posisi yang sama ,”ujarnya.

Ekspor Indonesia memang berpotensi meningkat, tetapi sebagian besar masih didominasi oleh komoditas. Di sisi lain, bahan baku dan barang modal industri saat ini masih didominasi impor. 

Dari sisi anggaran, secara keseluruhan juga berdampak negatif. Berdasarkan proyeksi perubahan indikator asumsi makro dalam sensitivitas APBN 2026, setiap pelemahan nilai tukar sebesar Rp 100 per dolar AS menaikkan pendapatan negara sekitar Rp 5,3 triliun, sekaligus belanja negara Rp 6,1 triliun.

Dengan demikian, bakal ada tambahan defisit sekitar Rp 800 miliar setiap rupiah melemah Rp 100 per dolar AS. Adapun rupiah sepanjang tahun ini bergerak di rentang 16.687-17.393 per dolar AS.

Lantas, apa efeknya bagi kehidupan kita sehari-hari? Beberapa harga barang, terutama yang diimpor, seperti barang-barang elektronik, akan naik. Tarif tiket pesawat dan beberapa harga BBM nonsubsidi telah naik, tak hanya karena lonjakan harga minyak tetapi juga pelemahan rupiah. 

Berpergian ke luar negeri, bahkan ke negara ASEAN pun menjadi lebih mahal. Sebagai contoh, 1 baht pada 2024 masih berada di level Rp 400, tetapi saat ini sudah berada di kisaran Rp 530. 

Lebih Baik Gesit Manfaatkan Pelemahan Rupiah

Di balik sederet dampak negatif pelemahan rupiah, Direktur Eksekutif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia Muhamad Rahmad menilai ada berkah yang sebenarnya bisa dipetik dari pelemahan rupiah, yakni mampu membangkitkan pariwisata.

"Logikanya sederhana, tapi sering diabaikan. Ketika rupiah melemah, wisatawan asing yang datang membawa dolar, euro, atau riyal akan memperoleh nilai tukar jauh lebih tinggi dari yang mereka bayangkan," kata Rahmad dalam tulisan opininya yang dimuat di Katadata.co.id. 

Menurut dia, pelemahan rupiah adalah repricing struktural yang bekerja diam-diam, dan waktunya terbatas. Masalahnya, Indonesia belum cukup gesit memanfaatkan jendela ini.

Data Kementerian Pariwisata menunjukkan kunjungan wisatawan mancanegara Januari-Februari 2026 mencapai 2,35 juta, tumbuh 7,77%. Angka ini belum mencerminkan percepatan yang seharusnya bisa dicapai jika ada respons kebijakan yang lebih agresif terhadap keunggulan harga.

"Bandingkan dengan Jepang. Ketika yen melemah tajam, mereka mengonversi situasi itu menjadi kampanye pariwisata agresif yang menempatkan Jepang sebagai destinasi premium dengan harga mid-range," kata dia.

Hasilnya, Jepang mencatatkan penerimaan dari wisatawan mancanegar mencapai 8,1 triliun yen pada 2024 — rekor sepanjang sejarah.

Namun, ia menekankan, peluang harga ini tidak otomatis berubah menjadi kedatangan wisatawan jika infrastruktur penerbangan tidak mendukung. Itulah titik masalah Indonesia: Keunggulan harga ada, tetapi sistem untuk mengonversinya menjadi devisa pariwisata belum bekerja secara optimal. 

Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia Paulina Suharno menilai, pemerintah perlu mendorong lebih banyak wisatawan asing berlibur ke Indonesia melalui sejumlah kebijakan. Apalagi dengan memanasnya kondisi di Timur Tengah saat ini, banyak maskapai yang tengah mencari alternatif-alternatif penerbangan lain untuk menggantikan rute-rute yang dianggap tidak aman.  

"Misalnya memberikan kemudahan tambahan slot penerbangan dari negara-negara lain ke Lombok, Bali, Labuan Bajo, atau bahkan Soekarno Hatta untuk menggantikan slot penerbangan dari Timur Tengah yang kosong," ujar Paulina. 

Saat ini, menurut dia, banyak wisatawan mancanegara seperti asal Cina, Jepang, maupun negara ASEAN lainnya yang mencari tempat berlibur yang menjamin keamanan di tengah situasi perang. Pemerintah sebenarnya dapat memanfaatkan momentum ini dengan memberikan kemudahan bagi maskapai luar negeri untuk menambah rute ke sejumlah wilayah di dalam negeri. 

Ia juga menilai, sudah waktunya bagi pemerintah  memberikan kemudahan pembebasan visa kepada wisatawan asing dari negara-negara yang memiliki potensi seperti Australia dan Cina. Namun di sisi lain, pengawasan terhadap WNA juga perlu diperbaiki. 

Pelemahan rupiah seharusnya dapat peluang yang perlu dimanfaatkan. Pemerintah perlu bergerak cepat mengonversi momentum ini menjadi dorongan ekspor dan pariwisata, yang pada akhirnya juga dapat memperkuat rupiah.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nuzulia Nur Rahmah