Apa yang Dilakukan Orang Yahudi di Tembok Ratapan?
Kediaman Presiden RI ke-7, Joko Widodo (Jokowi), di Jalan Kutai Utara No 1 ditandai dengan nama 'Tembok Ratapan Solo' di Google Maps. Fenomena ini semakin viral setelah beredar video seorang pemuda yang meratap di depan gerbang rumah tersebut.
Istilah “Tembok Ratapan” sebenarnya bukan sekadar mitos tau cerita fiksi. Dalam konteks sejarah, Tembok Ratapan merujuk pada Western Wall salah satu situs suci di Yerusalem.
Tembok Ratapan Yerusalem sering didatangi orang Yahudi maupaun para wisatawan dari luar Israel. Lantas, apa yang dilakukan orang Yahudi di Tembok Ratapan?
Apa yang Dilakukan Orang Yahudi di Tembok Ratapan
Tembok Ratapan merupakan salah satu tempat suci bagi umat Yahudi di Yerusalem, Israel. Tembok ini oleh orang Yahudi sendiri disebut Kotel HaMa'aravi (tembok barat).
Orang Yahudi mendatangi Tembok Ratapan (Tembok Barat/Kotel) di Yerusalem utamanya untuk berdoa, meratap, dan merenung. Tempat ini dianggap sebagai situs paling suci untuk beribadah
Melansir Ensiklopedia Britannica, pengunjung memberi sebutan tembok ratapan karena melihat banyak orang berdoa sambil meratap dan bersedih. Doa-doa yang dipanjatkan di tembok tersebut berisi ratapan kehancuran Bait Suci dan berdoa untuk pemulihannya.
Dalam memanjatkan doanya, orang Yahudi biasanya mendorong potongan-potongan kertas berisi harapan atau doa ke dalam celah-celah tembok, sehingga celah-celah tembok berisi jutaan kertas berisi doa.
Doa-doa yang ditulis di kertas dan diselipkan ke Tembok Ratapan dipercaya akan terkabul. Bangunan ini dipisah menjadi dua bagian, yaitu bagian sebelah kiri untuk Laki-laki dan bagian sebelah kanan untuk perempuan.
Di antara dua bagian bangunan tersebut dipisah oleh dinding pembatas. Hal ini karena orang Yahudi percaya bahwa laki-laki dan perempuan tidak boleh berdoa bersama-sama.
Saat mengunjungi Tembok Ratapan, pengunjung biasanya akan diminta untuk membasuh tangan dan bersuci dengan air yang telah disediakan. Selain itu, pengunjung laki-laki juga akan diberikan sebuah peci kecil untuk menutup kepala.
Peci ini tidak perlu dikembalikan dan bisa dibawa pulang oleh pengujung setelah selesai berdoa. Tembok ratapan juga digunakan untuk merayakan hari raya besar seperti Hanukkah, Yom Kippur, dan Sukkot, serta upacara Bar Mitzvah
Sejarah Tembok Ratapan
Tembok Ratapan sebagian besar bangunannya berada di bawah tanah. Tembok tersebut terbuat dari batu kapur yang terdiri dari 45 baris.
Sebanyak 28 baris batu bangunan berada di atas tanah dan 17 batu lainnya berada di bawah tanah. Batu terbesar pada Tembok Ratapan memiliki panjang sekitar 13, 41 meter dan berat 570 ton.
Tembok ini merupakan satu-satunya sisa tembok penahan yang mengelilingi Bukit Bait Suci. Lokasi Kubah Pertama dan Kedua dari kuil yang dipercaya umat Yahudi sebelum dihancurkan oleh dua penguasa kala itu, Nebukadnezar dari Babilonia dan Herodes Agung.
Kuil Pertama dihancurkan oleh Babilonia pada tahun 587-586 SM, dan Kuil Kedua dihancurkan oleh bangsa Herodea penguasa boneka Romawi pada tahun 70 M. Tradisi berdoa umat Yahudi di Tembok Ratapan baru terjadi pada abad ke-16.
Saat itu Kekaisaran Ottoman Turki di bawah Sultan Sulaiman Agung mengizinkan umat Yahudi berdoa di tembok itu. Tembok tersebut kini menjadi bagian dari tembok yang lebih besar yang mengelilingi Kubah Batu dan Masjid Al-Aqsa.
Kaum Yahudi dan Arab sering kali berselisih mengenai kendali atas tembok tersebut setelah Israel mengambil alih kendali penuh atas tembok tersebut setelah perang enam hari 1967.