Iran Tegaskan Penutupan Selat Hormuz Hanya untuk AS-Israel dan Sekutu

ANTARA/Anadolu/Fatemeh Bahrami/py/am
Penutupan Selat Hormuz, Iran
Penulis: Izzul Millati
Editor: Safrezi
16/3/2026, 14.43 WIB

Iran menegaskan bahwa Penutupan Selat Hormuz saat ini tidak berlaku untuk semua kapal, melainkan hanya ditujukan kepada kapal tanker dan kapal dagang milik Amerika Serikat, Israel, serta negara-negara sekutu yang dianggap ikut menyerang Iran. 

Pesan itu disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Sabtu, 15 Maret 2026, di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah. Dalam penjelasannya, Araghchi menekankan bahwa Selat Hormuz pada dasarnya tetap terbuka, tetapi tidak untuk pihak yang oleh Iran dikategorikan sebagai musuh.

Selat Hormuz Tetap Terbuka, tetapi Tidak untuk Semua

Pernyataan soal Selat Hormuz muncul sehari setelah serangan Amerika Serikat terhadap target militer Iran di Pulau Kharg, fasilitas yang sangat penting bagi ekspor minyak negara tersebut. Dengan adanya aturan tersebut, Penutupan Selat Hormuz Iran lebih tepat dipahami sebagai pembatasan akses terhadap lawan perang, bukan blokade mutlak terhadap seluruh dunia. 

Sikap ini juga dinilai sebagai upaya Teheran untuk mencegah terbentuknya koalisi internasional yang lebih luas melawan Iran. Jika semua kapal ditutup total, respons dari negara-negara pengimpor energi bisa jauh lebih keras. 

Namun, dengan aturan Penutupan Selat Hormuz yang selektif, Iran masih bisa menyampaikan pesan bahwa kapal negara lain tetap aman melintas selama tidak terkait dengan AS, Israel, dan sekutunya. 

Mengapa Penutupan Selat Hormuz Iran Langsung Mengguncang Pasar Minyak Dunia?

Isu Penutupan Selat Hormuz Iran mengguncang harga minyak dunia karena Selat Hormuz adalah titik kunci perdagangan energi dunia. Jalur sempit ini menghubungkan Teluk Persia dengan pasar internasional dan dilalui sekitar seperlima minyak dunia. Karena itu, setiap gangguan di wilayah ini dapat langsung memicu lonjakan harga minyak dan kecemasan pasar. 

Kabar terkait Penutupan Selat Hormuz Iran kemarin saja membuat harga minyak mentah sempat menyentuh US$119,50 per barel pada 9 Maret, sebelum bergerak turun dan kembali naik ke kisaran US$100,52 per barel. 

Iran kemungkinan akan mengizinkan kapal tanker minyak lewat secara terbatas jika transaksi minyak dilakukan dalam yuan China. Jika benar diberlakukan, syarat transaksi dengan yuan menunjukkan upaya Iran memakai jalur laut sebagai alat untuk mendorong transaksi energi menjauh dari dolar AS. 

Kapal Masih Lewat, tetapi Risiko Tetap Tinggi

Walau Iran menegaskan selat tetap terbuka bagi banyak negara, tidak berarti situasi di lapangan terasa normal. Araghchi sendiri mengakui bahwa banyak kapal memilih tidak melintas karena alasan keamanan, bukan karena Iran menutup total jalur tersebut. 

Dua kapal tanker India yang membawa liquefied petroleum gas dilaporkan berhasil melewati Selat Hormuz dengan aman pada Sabtu pagi, yang memperkuat klaim bahwa Penutupan Selat Hormuz Iran tidak berlaku bagi seluruh negara. Namun, keberhasilan sebagian kapal melintas tidak menghapus risiko keamanan yang tetap tinggi.  

Associated Press melaporkan setidaknya 16 kapal yang beroperasi di sekitar Teluk dan Selat Hormuz telah diserang sejak perang dimulai pada 28 Februari. Fakta ini menunjukkan bahwa walaupun Penutupan Selat Hormuz Iran bersifat selektif, suasana pelayaran di jalur tersebut tetap jauh dari kata aman.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.