Epidemiolog: Penerapan Pembelajaran Tatap Muka Jangan Tergesa-gesa

Image title
25 Mei 2021, 12:55
Sejumlah siswa mengikuti simulasi pembelajaran tatap muka di SD Cimahi Mandiri 2, Cimahi, Jawa Barat, Senin (24/5/2021). Pemerintah Kota Cimahi menggelar simulasi pembelajaran tatap muka di 27 PAUD/TK, 102 SD dan 38 SMP sebagai persiapan pelaksanaan pembe
ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/hp.
Sejumlah siswa mengikuti simulasi pembelajaran tatap muka di SD Cimahi Mandiri 2, Cimahi, Jawa Barat, Senin (24/5/2021).

Pemerintah akan memberlakukan kebijakan pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas pada Juli 2021. Epidemiolog Universitas Airlangga Laura Navika Yamami mengingatkan, pemerintah harus tetap waspada terhadap penyebaran Covid-19 jika sekolah dibuka kembali. 

“Meskipun pemerintah telah mengeluarkan surat keputusan bersama (SKB) empat menteri, kegiatan PTM ini tidak bisa dilakukan tergesa-gesa,” kata Laura dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Penerapan Prokes 3M di Sekolah Dasar Jelang PTM” yang diselenggarakan oleh Katadata, Senin (24/21).

Menurutnya, kegiatan PTM tetap harus memperhatikan situasi penyebaran Covid-19 di daerah-daerah. Faktor keselamatan dan kesehatan tetap lebih penting dari pendidikan. 

SKB 4 Menteri merupakan surat keputusan yang menyatakan tiap sekolah wajib memberikan layanan belajar tatap muka terbatas setelah seluruh pendidik dan tenaga kependidikan menerima vaksin virus corona

SKB ini ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, dan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Di samping itu, Laura mengatakan, penting untuk memastikan penerapan protokol kesehatan 3M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak) dijalankan oleh siswa ketika di dalam kelas. Salah satunya dengan membentuk satgas untuk mengawasi kedisiplinan penerapan 3M.

“Saya kira sangat penting memanfaatkan waktu sekarang ini sekitar 1-2 bulan menjelang PTM ini untuk dimanfaatkan pihak sekolah dalam melakukan sosialisasi protokol kesehatan,” katanya 

Sementara itu, Pengembang Teknologi Pembelajaran, Direktorat Sekolah Dasar, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan-Riset dan Teknologi (Kemendikbud-ristek) Abdul Mukti mengungkapkan, kegiatan PTM tetap menyesuaikan kesiapan sekolah di daerah. 

Pelaksanaan PTM sendiri mempertimbangkan sejumlah hal.  Sebagai contoh, efektivitas sistem pembelajaran jarak jauh dinilai masih diragukan, terutama bagi perkembangan kemampuan siswa dalam menyerap pelajaran.

Menurut Abdul, selama ini siswa mengalami learning lost saat pembelajaran secara daring. Siswa tidak bisa menyerap pelajaran secara maksimal karena kesulitan yang dialami orang tua dalam melakukan pendampingan. Terlebih, gap teknologi yang cukup dirasakan siswa-siswa di daerah. Meski demikian, ia menegaskan, keputusan terakhir PTM tetap berada di tangan orang tua. 

“Jika orang tua tidak berkenan anaknya melakukan PTM, maka guru wajib memberikan fasilitas PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) bagi anak-anak yang tidak mau ke sekolah,” tuturnya.

Advertisement

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait