Rupiah Menguat Tajam, Investor Perlu Waspada Terjadi Pembalikan Arah

Penguatan rupiah terutama terpengaruh indikator ekonomi AS yang tidak sesuai ekspektasi, sehingga memberikan sinyal ke pasar bahwa the Fed bakal menunda rencana kenaikan suku bunganya.
Aria W. Yudhistira
7 Oktober 2015, 16:02
No image
Petugas penukaran mata uang merapihkan uang yang hendak ditukar dengan mata uang asing di salah satu tempat penukaran uang di Jakarta.

KATADATA - Penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi dalam empat hari perdagangan terakhir perlu diwaspadai. Ada potensi terjadi pembalikan arah karena penguatan kurs rupiah tersebut sudah cukup tajam.

Pada hari ini, rupiah tercatat sempat mencapai level Rp 13.764 per dolar AS, atau menguat sekitar 3,5 persen terhadap penutupan perdagangan kemarin. Ini merupakan penguatan rupiah harian tertinggi sejak 2012.

Secara kumulatif sejak 1 Oktober 2015, rupiah sudah menguat lebih dari 6 persen, atau kembali ke kisaran Rp 13.000-an setelah sejak akhir Agustus lalu berada di atas Rp 14.000 per dolar AS.

Saktiandi Supaat, Head of Foreign Exchange Research Malayan Banking Berhad, melihat ada potensi dolar AS mengalami pembalikan arah atau rebound. Dalam penglihatannya, pelepasan dolar AS yang terjadi beberapa hari ini sudah mengarah pada titik jenuh atau oversold.

“Ini menunjukkan potensi dolar AS akan mengalami rebound ke depan,” kata dia dalam risetnya hari ini. (Baca: Empat Faktor yang Menyebabkan Rupiah Menguat)

Meski demikian, Saktiandi melihat, rupiah masih mendapatkan sentimen positif dari pasar, sehingga masih akan mengalami penguatan. Ini terlihat dari dana asing sekitar Rp 1,62 triliun yang memindahkan portofolionya dari surat utang negara (SUN) ke pasar saham. Perpindahan ini membuat tingkat imbal hasil (yield) obligasi negara turun sekitar 24 basis poin-53 basis poin.

“Kami yakin ada aliran dana masuk yang signifikan ke pasar surat utang pemerintah sebagaimana terlihat dari turunnya tingkat yield kemarin,” kata dia. (Baca: Rupiah Menguat Berkat Rights Issue HM Sampoerna Hampir Rp 21 Triliun)

Analis First Asia Capital David Nathanael Sutyanto mengatakan, penguatan rupiah ini juga berdampak positif terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG). Seiring dengan aksi beli pemodal, nilai transaksi di pasar reguler meningkat signifikan mencapai Rp 6,12 triliun, jauh di atas rata-rata harian tahun ini yang hanya Rp 4,36 triliun di pasar modal.

“Ini merupakan penguatan harian terbesar sejak Mei 2012.  Penguatan rupiah atas dolar AS dan kenaikan IHSG dalam dua hari perdagangan terakhir mengindikasikan masuknya kembali pemodal asing ke aset berdenominasi rupiah,” kata dia.

Di pasar saham pembelian bersih asing kemarin mencapai Rp 844,83 miliar. “Aksi beli terutama melanda sejumlah saham berkapitalisasi besar yang bergerak di perbankan, otomotif, dan telekomunikasi,” ujar David. (Baca: Penguatan Rupiah yang Paling Tinggi di Asia)

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menilai, ada beberapa faktor yang menyebabkan penguatan rupiah dalam beberapa hari terakhir. Terutama sentimen yang berasal dari indikator ekonomi di AS yang tidak sesuai ekspektasi.

“(Penguatan rupiah) itu tentu gabungan dari beberapa kebijakan. Salah satunya, kebijakan kami (paket kebijakan ekonomi). Yang kedua, dari AS karena dia (kemungkinan) tidak menaikkan tingkat bunga (tahun ini). Itu membuat pasar juga yakin, (ekonomi AS) enggak bagus-bagus amat,” kata dia di kantornya, Jakarta, Rabu (7/10).

Rupiah

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait