Rugi Bumi Resources Januari-September Turun 2,7% dari Tahun Lalu

PT Bumi Resources Mineral Tbk mencatat kerugian sebesar US$ 94,1 juta atau Rp 1,4 triliun hingga September 2018.
Image title
30 Oktober 2018, 21:46
industri-alat-berat-pertambangan.jpg
ilustrasi.

PT Bumi Resources Mineral Tbk mencatat kerugian sebesar US$ 94,1 juta atau Rp 1,4 triliun hingga September 2018. Kerugian ini lebih rendah sekitar 2,7% dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$ 96,5 juta.   

Turunnya angka kerugian ini salah satunya karena beban pajak penghasilan dari perusahaan juga lebih rendah. Selama sembilan bulan tahun 2018, beban pajak penghasilan perusahaan berkode emiten ini hanya US$ 41,2 ribu. Padahal, periode yang sama tahun lalu, bisa mencapai US$ 69,84 juta.

Selain itu, beban usaha selama Januari hingga September turun sekitar 47% ke US$ 4,4 juta. Penurunan beban usaha ini karena berkurangnya jasa profesional 41,5% ke level US$ 549 ribu.

Beban bunga dan keuangan juga turun 95,5% ke US$ 29,9 ribu. Penurunan bunga setelah pelunasan pinjaman Credit Suisse.

Advertisement

Namun, pendapatan BRMS selama periode tersebut juga turun 78% ke US$ 1,1 juta. Ini yang membuat perusahaan Grup Bakrie tersebut mengalami rugi.

Meski begitu, kas dan setara kas Bumi Resources naik lima kali lipat ke US$ 26,9 juta. Salah satu penopangnya adalah divestasi 51% saham BRMS di PT. Dairi Prima Mineral (seng & timah hitam) ke NFC China. Proses divestasi itu menghasilkan duit sekitar US$198 juta.

Dana itu digunakan untuk melunasi pinjaman Credit Suisse. Lalu, pembayaran tahap awal sebesar US$22 juta kepada PT Aneka Tambang untuk pembelian 20% saham ANTM di Dairi Prima Mineral.

Direktur/Investor Relations BRMS Herwin Hidayat mengatakan penyelesaian divestasi 51% saham Dairi menandakan berhasilan merangkul mitra dengan kemampuan keuangan yang kuat untuk masa depan pengembangan proyek seng dan timah hitam. Apalagi, NFC akan menjadi kontraktor konstruksi (Engineering, Procurement, dan Construction/EPC) proyek ini.

“Kami juga menyampaikan laporan Neraca Keuangan Perusahaan yang cukup sehat dengan Rasio Pinjaman terhadap Modal (bersih) sebesar 0.06x dengan telah dilunasinya pinjaman dari Credit Suisse,” kata dia berdasarkan keterangan resminya, Selasa (30/10).

Chief Operating Officer Suseno Kramadibrata mengatakan tambahan kas itu bisa menjadi modal memulai pekerjaan konstruksi di CPM dan DPM. Harapannya, CPM sebesar 75 ribu ton bijih per tahun di semester kedua 2020. Lalu, naik menjadi 300.000 ton bijih per tahun di 2021 dan 600 ribu ton bijih per tahun di 2022.

(Baca: Jual Tambang Dairi ke Tiongkok, Anak Usaha Bakrie Raup Rp 2,9 Triliun)

Bumi Resources juga berencana memulai produksi di DPM tahun 2021 dengan besaran 250 ribu hingga 500 ribu ton bijih per tahun. “Produksi ini diharapkan dapat meningkat menjadi 500 ribu hingga satu juta ton bijih per tahun di 2022,” ujar dia.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait