Konflik Irak Picu Rupiah Tembus 12.000 per Dolar AS

Kenaikan harga minyak membuat investor takut karena akan mempengaruhi neraca perdagangan yang akan menekan defisit transaksi berjalan
Image title
Oleh
19 Juni 2014, 11:48
Dolar
Arief Kamaludin|KATADATA
KATADATA | Arief Kamaludin

KATADATA ?  Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menilai pelemahan rupiah hingga menembus Rp 12.000 pada Rabu (18/06) dipengaruhi konflik senjata di Irak yang meningkat sepekan terakhir. Hal itu mempengaruhi kekhawatiran produksi minyak dunia.

Menurutnya kekhawatiran kenaikan harga minyak membuat investor takut karena akan mempengaruhi neraca perdagangan yang akan menekan defisit transaksi berjalan (current acount defisit).

"Dikhawatirkan itu (konflik Irak) akan berdampak secara luas bagi dunia," ujarnya usai rapat Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta, Rabu malam (18/6).

Kondisi global lainnya yang mempengaruhi pelemahan rupiah yaitu hasil rapat Federal Open Market Committee(FOMC) di Amerika Serikat mengenai kenaikan inflasi di AS. Sehingga timbul kekhawatiran percepatan peningkatan suku bunga The Fed yang awalnya diprediksi pada 2015.

Dari sisi domestik, lanjut Agus, yaitu pembelian Sedangkan dari sisi domestik, ada pembelian dolar dari korporasi retail untuk valuta asing (valas) dan pembelian musiman. Perusahaan memerlukan dana untuk pembayaran utang luar negeri atau dikenal  pembayaran pinjaman bunga.
"Selain itu ada sedikit outflow dari saham dan surat utang dalam bentuk dolar," tuturnya.

Hal senada juga disampaikan Menteri Keuangan Chatib Basri, yang menilai pelemahan rupiah sebagai dampak dari situasi politik di Irak. Sebagai negara sumber energi, pengaruh Irak sangat besar karena menimbulkan kekhawatiran harga minyak dunia meningkat.

"Terlihat juga harga Indonesia Crude Price (ICP) meningkat, sehingga ada concern terhadap harga energi," tuturnya.

Meski dipengaruhi dari kondisi global, namun pelemahan rupiah yang paling dalam dibanding negara regional Asia. Menurut Chatib, kondisi Indonesia dipengaruhi berbagai variabel, terutama sisi anggaran yang terbebani subsidi yang besar. Meski demikian Chatib tetap optimis asumsi makro nilai tukar rupiah yang tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp 11.600 per dolar AS bisa tercapai.

Reporter: Rikawati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait