Tolak Leopard, Jokowi Dukung Anoa

Pindad telah memproduksi ratusan Panser Anoa untuk memenuhi kebutuhan TNI serta pesanan Malaysia dan Brunei Sejumlah negara lain berminat
Image title
Oleh
26 Juni 2014, 09:26

KATADATA - Dalam debat calon presiden, Joko Widodo menekankan pentingnya Indonesia mengembangkan industri pertahanan dalam negeri. Karena itu, Jokowi mendukung pemanfaatan Panser Anoa ketimbang mengimpor tank Leopard.

"Panser Anoa harus dikembangkan terus," ujar Jokowi saat mengajukan pertanyaan kepada Prabowo, pesaingnya dalam pemilihan umum calon presiden periode 2014-2019 yang berlangsung di Jakarta, Minggu, 22 Juni 2014.

Panser Anoa yang digagas oleh mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dibuat oleh PT Pindad, BUMN industri strategis yang berbasis di Bandung. Perusahaan negara ini telah memproduksi ratusan kendaraan tempur tersebut untuk memenuhi kebutuhan TNI. Panser ini juga sudah dipesan oleh Malaysia dan Brunei Darussalam, serta diminati oleh sejumlah negara lainnya, seperti Irak, Oman, Afghanistan dan Timor Leste.

Menurut Jokowi, dengan berat 62 ton, tank Leopard yang dibeli dari Jerman tidak sesuai dengan kondisi medan di Indonesia. Tank ini terlalu berat sehingga jembatan dan jalan di Indonesia tidak kuat menanggung beban kendaraan yang terbuat dari baja tersebut.

Namun, Prabowo tidak sepakat. Menurut dia, keputusan membeli tank Leopard sudah diperhitungkan dan melalui riset para pakar. Anggapan bahwa tank ini tidak cocok dengan wilayah Indonesia tidak sepenuhnya benar. Bahkan, tank ini juga diperlukan TNI dalam menjalankan misi perdamaian PBB.

Sedangkan, mantan Presiden BJ Habibie beberapa waktu sebelumnya pernah mengkritik keras pembelian tank Leopard oleh TNI karena kendaraan tempur tersebut lebih sesuai untuk negara padang pasir, bukan negara maritim seperti Indonesia. Pada masa Presiden Soeharto, Habibie pernah memimpin sejumlah industri strategis Indonesia, seperti Pindad, Dirgantara (dulu IPTN) dan PT PAL.

 

 

Reporter: Heri Susanto
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.