Dana Hibah dan Impor Kedelai Fiktif dalam Kasus Century

Penulis: dan Aria W. Yudhistira

23/12/2013, 00.00 WIB

Bank Indonesia BI meminta Lembaga Penjamin Simpanan LPS untuk menambah modal Bank Mutiara sebesar Rp 15 triliun Salah satu beban yang mesti ditanggung Bank Mutiara adalah mencadangkan dana akibat kred

2451.jpg
Arief Kamaludin | KATADATA
KATADATA | Agung Samosir

KATADATA ? Bank Indonesia (BI) meminta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) untuk menambah modal Bank Mutiara sebesar Rp 1,5 triliun. Salah satu beban yang mesti ditanggung Bank Mutiara adalah mencadangkan dana akibat kredit bermasalah di tiga koperasi peninggalan manajemen lama sejak bank itu masih bernama Bank CIC. Jumlahnya mencapai Rp 173,3 miliar. (Baca juga: Borok Lama yang Kembali Kambuh)

Hal ini sebetulnya sudah diungkap dalam laporan hasil audit investigasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) 20 November 2009. Dalam laporan disebutkan, kasus itu bermula dari program hibah Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) senilai US$ 24 juta.

Hibah ini merupakan jaminan bagi importir yang mengimpor kedelai dari AS. Masa berlakunya mulai 20 September 1999 sampai 31 Desember 2002. Jika terjadi gagal bayar maka bank yang membuka surat utang dapat memperoleh penggantian melalui dana hibah tersebut.

Salah satu bank yang memperoleh fasilitas yang dikenal sebagai Public Law (PL) 416B tersebut adalah Bank CIC. Tiga koperasi, yakni Induk Koperasi Unit Desa (Inkud), Induk Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Inkopti), dan Induk Koperasi Kesejahteraan Ummat Dewan Masjid Indonesia (IKKU-DMI) merupakan nasabah Bank CIC yang memanfaatkan fasilitas tersebut.

Ketiga koperasi akan memanfaatkannya untuk impor kedelai dengan plafon Letter of Credit (L/C) masing-masing senilai US$ 8 juta. Mereka pun mengajukan permohonan kepada Chase Manhattan Bank-JP Morgan sebagai pengelola dana hibah. Chase Manhattan Bank kemudian menunjuk Bank CIC sebagai penjamin karena memiliki hubungan dengan Chase Manhattan Bank.

Namun berdasarkan pemeriksaan Bank Indonesia (BI) pada 2001 diketahui ada indikasi penyelewengan atas dana hibah tersebut. Beberapa fakta yang ditemukan BI antara lain status PT Paramitra Langgeng Sejahtera yang menjadi penerima (beneficiary) fasilitas L/C itu ternyata tidak jelas.

Persoalannya, Paramitra yang disebut berkedudukan di Singapura ternyata tidak terdaftar dalam Registry of Company di Singapura dan juga tidak tercatat di Standard Chartered Bank Singapore yang menjadi bank korespondensi Bank CIC. Saat membuka L/C, ketiga koperasi juga tidak menyertakan setoran jaminan sebesar 20 persen yang dipersyaratkan Chase Manhattan Bank.

Kemudian diketahui pula ternyata impor yang dilakukan ketiga koperasi fiktif, karena seluruh barang yang diimpor berdasarkan L/C tersebut ternyata merupakan barang yang sebelumnya telah diimpor oleh PT Paramitra Langgeng Sejahtera dan PT Paramitra Langgeng Sentosa. Kedua perusahaan ini menurut pemeriksaan BI diketahui milik Robert Tantular.

Kedua perusahaan milik Robert Tantular tersebut diketahui telah melakukan kegiatan impor pada awal Januari 2001. Sementara pembukaan L/C baru dilakukan pada Juni dan Agustus 2001. Meski proses impor ini tidak lazim, namun Bank CIC tetap mencairkan pembayaran kepada eksportir.

Bahkan ketika dicek ke gudang yang disebutkan sebagai tempat menyimpan barang-barang impor tersebut, tidak ditemukan barang milik Inkud dan Inkopti seperti yang tercantum dalam invoice. Sementara pengiriman barang untuk IKKU-DMI jumlahnya sangat kecil yakni hanya 20 persen dari jumlah dalam invoice.

Dalam kesimpulannya, BI menyebutkan Bank CIC dan ketiga koperasi memiliki rencana melakukan penyelewengan, dengan harapan dapat mencairkan dana hibah tanpa membayar tagihan. Chase Manhattan Bank yang telah menerima pemberitahuan dari BI menolak membayarkan klaim kepada Bank CIC karena tidak sesuai prosedur. Hingga tanggal jatuh tempo, ketiga koperasi ternyata gagal melakukan pembayaran. Nilainya masing-masing US$ 6,4 juta (Inkud), US$ 6,2 juta (Inkopti), dan US$ 6,4 juta (IKKU-DMI).

Karena ditolak, Bank CIC kemudian menuntut Chase Manhattan Bank di Pengadilan New York. Namun karena dianggap berlarut-larut, diadakan pertemuan antara Departemen Keuangan, USDA, BI, dan Bank CIC pada 8 November 2002 dan memperoleh kesepakatan antara lain untuk memperpanjang masa berlaku hibah dari 31 Desember 2002 menjadi 30 Juni 2004.

Pemerintah Indonesia mengusulkan agar collateral account (rekening jaminan) diubah menjadi escrow account (rekening penampung) atas nama Menteri Keuangan. Kemudian Bank CIC bersedia membatalkan gugatan ke Chase Manhattan Bank, dan bertanggung jawab menyelesaikan tagihan kepada tiga koperasi hingga 30 Juni 2004. Selama periode tersebut, BI tidak mewajibkan Bank CIC untuk membentuk pencadangan modal atau Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) atas kredit bermasalah tersebut.

Namun setelah diperpanjang hingga 30 Juni 2005, Bank CIC tetap tidak dapat melakukan penagihan, sehingga BI meminta Bank CIC untuk membentuk PPAP sebesar sisa tagihan kepada tiga koperasi tersebut.

Di sisi lain, pemerintah yang sudah mengubah status rekening jaminan dana hibah menjadi rekening penampung, kemudian menempatkannya di rekening pada Bank Century pada 1 November 2005. Jumlahnya mencapai US$ 17,28 juta atau setara Rp 173,3 miliar yang berfungsi sebagai jaminan atas pemberian kredit kepada tiga koperasi tersebut.

Status escrow account tidak dapat berubah hingga permasalahan hukum antara Bank Mutiara dan ketiga koperasi ada kekuatan hukum tetap. Bank Mutiara sebagai entitas baru Bank Century pun tidak bisa mencairkan dana tersebut kecuali ada persetujuan dari BI dan Kementerian Keuangan. Kemudian jika disetujui, maka Bank Mutiara harus melakukan pembayaran kepada Menteri Keuangan. Untuk itu, Bank Mutiara tetap harus melaksanakan penagihan kepada ketiga koperasi tersebut.

Reporter: Aria W. Yudhistira

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha