Tahun ini, realisasi program satu juta rumah diprediksi hanya mencapai 700 ribu unit atau 70% dari target. Realisasi diharapkan melebihi 80% ke depan.
buruh bangunan
Buruh mengerjakan pembangunan perumahan bersubsidi di Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Selasa (1/8). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Tak banyak lagi waktu tersisa hingga berakhirnya masa lima tahun pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla. Namun, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) masih punya sederet target proyek infrastruktur yang harus dikejar, dari mulai perumahan, jalan, irigasi, hingga bendungan.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian PUPR Danis Sumadilaga mengatakan, pencapaian program satu juta rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah diprediksi hanya akan mencapai 700 ribu unit atau 70% dari target pada 2017 ini. Dengan demikian, realisasinya sejak 2015 bakal mencapai 2,2 juta unit.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Meski tak capai target, kementerian bakal berupaya agar realisasinya lebih baik di dua tahun ke depan. "Masih ada dua tahun lagi (pemerintahan), ingin kami kejar semoga bisa capai di atas 80%," kata Danis dalam Konferensi Pers terkait 3 tahun pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla di Kantor Staf Kepresidenan di Jakarta, Selasa (17/10). (Baca juga: Kalau Tak Ingin Popularitas Turun, Jokowi Diminta Tunda Infrastruktur)

Secara rinci, ia memaparkan, prediksi 700 ribu unit rumah tahun ini terdiri atas pembangunan rumah sebanyak 128.291, pembiayaan perumahan sebanyak 279.000, dan pembangunan rumah di luar pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau dari swasta dan masyarakat sebanyak 292.709.

Kemudian, di bidang infrastruktur pemukiman. Danis menjelaskan, sistem pengelolaan air minum (SPAM) sudah bisa menghasilkan 16,177 liter per detik air bersih saat ini, dari target 34.319 liter per detik pada 2019. Ini artinya, target baru tercapai sekitar 47%.

Lalu, pengembangan kawasan pemukiman baru mencapai 6.763 hektar atau sekitar 17% dari target 38.431 hektar hingga 2019. Sedangkan penyediaan sanitasi dan persampahan sudah menjangkau 7,72 juta kepala keluarga (kk) atau sekitar 63% dari target 12,16 juta kk hingga 2019.

Untuk infrastruktur terkait konektivitas, ia merinci, pembangunan jalan sudah mencapai 2.623 kilometer (km) atau 98% dari target sepanjang 2.650 km hingga 2019. Sementara jalan tol baru mencapai 300 km dari target 568 km tahun ini. Jumlah tersebut juga masih 16% dari target 1.852 km hingga 2019. Lalu, pembangunan jembatan sudah mencapai 25,2 ribu meter.

"Sepanjang dua tahun tersisa ini untuk konektivitas kami berusaha selesaikan jalan-jalan di perbatasan yaitu di Kalimantan, Papua, dan Nusa Tengara Timur (NTT)," kata Danis. (Baca juga: Kerja Membangun Beranda Terdepan)

Di sektor ketahanan air dan pangan, pembangunan sarana dan prasarana air baku sudah menghasilkan 17,53 meter kubik per detik air baku. Pencapaian ini baru sekitar 26% dari target 67,52 meter kubik per detik pada 2019.

Lalu, jaringan irigasi sudah mencapai 529.335 hektar (ha) dan jaringan irigasi tambak 7.838 ha atau 53% dari target 1 juta ha hingga 2019. Kemudian, pengendalian daya rusak air baru mencapai 832 km atau sekitar 23% dari target 3.620 km hingga 2019.

Adapun untuk bendungan ditargetkan selesai sembilan unit tahun ini dan mencapai 29 unit pada 2019. Artinya, masih harus mengejar penyelesaian 20 unit lagi.

 

Artikel Terkait
"Ada Kanci-Pejagan dan Pejagan-Pemalang," ujar Desi
Kedua BUMN tersebut adalah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. dan PT Nindya Karya (Persero).
"Jadi, Januari benar-benar menjadi awal dimulainya pekerjaan (proyek Kementerian PUPR)," kata Basuki.