Tutup Pintu Korsel, Luhut Pastikan Jepang Garap Kereta Cepat Surabaya

Penulis: Ameidyo Daud

Editor: Safrezi Fitra

Sabtu 30/12/2017, 13.00 WIB

"Masih Jepang saat ini, (Korsel) belum kami lihat," kata Luhut

Luhut Binsar Pandjaitan
Katadata
Menteri Koordinator Maritim Luhut Binsar Panjaitan.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan memastikan Jepang masih diprioritaskan untuk menggarap proyek kereta semicepat Jakarta - Surabaya. Dengan begitu, tertutup peluang bagi Korea Selatan untuk ikut menggarap proyek tersebut saat ini.

"Masih Jepang saat ini, (Korsel) belum kami lihat," kata Luhut saat ditemui di Jakarta, Jumat (29/12). (Baca: Luhut Akui Tawaran Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Jepang Lebih Murah)

Pemerintah Korsel memang sempat menyatakan ketertarikannya untuk mengikuti tender proyek kereta semicepat Jakarta-Surabaya. Hal ini diungkapkan Menteri Pertanahan, Infrastruktur dan Transportasi Korea Selatan Kim Hyunmee kepada Luhut, beberapa waktu lalu. Namun Luhut mengaku hingga saat ini pemerintah belum mengajak Korea dalam proyek ini.

Meski demikian, Luhut membuka peluang bagi Negeri Ginseng tersebut masuk ke proyek infrastruktur lain, yang juga diminati Korsel, yakni kereta listrik ringan atau Light Rail Transit (LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek). Korea bisa ikut dalam pengadaan rangkaian kereta atau rolling stock proyek ini. 

Luhut juga sempat mengatakan pemerintah masih mempertimbangkan teknologi yang akan digunakan untuk proyek ini. Terdapat dua opsi yang dipertimbangkan yakni antara narrow gauge dan standard gauge. Teknologi narrow gauge menggunakan rel dengan ukuran kecil, yakni selebar 1.067 milimeter. Sedangkan standart gauge menggunakan rel yang lebih lebar 1.435 milimeter. 

(Baca: Luhut: Jepang Belum Pasti Garap Kereta Cepat Jakarta-Surabaya)

Selama ini Jepang menggunakan teknologi narrow gauge, dan pemerintah menggandeng Korea Selatan yang terbiasa menggunakan teknologi standard gauge. Luhut mengatakan, dirinya memang lebih condong menggunakan teknologi standard gauge yang lebih banyak digunakan di dunia.

Alasannya, teknologi ini diklaim lebih maju dibandingkan narrow gauge. Di dunia pun, hanya tinggal Indonesia, Jepang, dan Australia yang menggunakan teknologi narrow gauge."Kami minta dari Korea Selatan. Tadi Menteri Perhubungan minta Korsel," ujar Luhut beberapa waktu lalu.

Reporter: Ameidyo Daud

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha