Ekspor Biofuel Dihambat, RI Pertimbangkan Gugat Norwegia ke WTO

Penulis: Rizky Alika

Editor: Ekarina

21/3/2018, 14.53 WIB

Salah satu produk impor asal Norwegia yang tengah dipertimbangkan untuk dihentikan adalah ikan salmon

Kelapa sawit
Arief Kamaludin|KATADATA
Petani memanen buah kelapa sawit di salah satu perkebunan kelapa sawit di Desa Delima Jaya di Kecamatan Kerinci, Kabupaten Siak, Riau.

Pemerintah Indonesia menyiapkan sejumlah startegi guna mengantisipasi kebijakan proteksi Norwegia yang akan menghentikan pengadaan biodiesel berbasis minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) asal Indonesia. Atas kebijakan tersebut, pemerintah mempertimbangkan bakal menggugat Norwegia ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) hingga membatasi  impor ikan dengan mempertimbangkan pasokan dari negara lain.

"Di Norwegia sudah ada kebijakan pengehentian pengadaan biofuel berbasis minyak sawi, padahal itu sudah jelas secara legal. Tinggal itu kita menyikapi seperti apa. Bisa kita gugat. Itu salah satu alternatif atau bisa saja kita liat impor dari Norwegia apa,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian di Jakarta, Selasa (20/3) petang.

(Baca : Indonesia Menangkan Sengketa Biodiesel dengan Uni Eropa

Salah satu produk impor asal Norwegia yang tengah dipertimbangkan untuk dihentikan adalah ikan salmon. Sebagai alternatif pemerintah bakal mencari impor ikan salmon dari negara lain seperti Chile.

Ancaman pengehentian impor produk dari Norwegia sebelumnya juga diutarakan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla. Ia bahkan menyatakan tengah mempertimbangkan untuk menghentikan impor pesawat dari Norwegia jika ekspor biodiesel berbahan baku sawit dihalangi masuk.

(Baca juga: Resolusi Sawit Uni Eropa Mengecewakan, Pemerintah Bakal Lapor ke WTO)

Pengesahan rancangan proposal energi yang menghapus penggunaan biodiesel berbahan baku minyak sawit telah berdampak besar pada komoditas sawit di seluruh dunia. Sebab, saat ini telah muncul persepsi negatif bahwa minyak sawit dipandang sebagai salah satu penyebab deforestasi yang terjadi di dunia.

"Karena alasan deforestasi seolah-olah sawit itu jelek, jadi dampaknya sekarang negative impression terhadap sawit sudah tambah tinggi," kata Oke.

Karenanya, persepsi negatif terhadap minyak sawit lebih lanjut akan merugikan Indonesia. Sebab, Indonesia merupakan salah satu pengekspor minyak kelapa sawit terbesar. Ekspor minyak sawit dan turunannya ke pasar Eropa pada 2016 turun 11,93% dari tahun sebelumnya. Menurut laporan Statistik Kelapa Sawit 2016, ekspor CPO Indonesia seberat 4,58 juta ton dengan nilai US$ 3,01 miliar. Jumlah tersebut setara 19% dari total ekspor.

Parlemen Eropa sebelumnya mengesahkan rancangan proposal energi dengan menghapus minyak kelapa sawit sebagai bahan dasar biodiesel pada 2021 dan minyak nabati pada 2030. Hal itu dilakukan parlemen Uni Eropa dengan mendukung Report on the Proposal for a Directive of the European Parliament and of the Council on the Promotion of the use of Energy from Renewable Sources pada 17 Januari 2018.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN