Pemerintah Dorong Penguatan Ekspor Industri untuk Pulihkan Rupiah

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Ekarina

Senin 10/9/2018, 18.29 WIB

Pemerintah memprioritaskan peningkatan ekspor melalui lima sektor industri manufaktur yang masuk dalam program Making Indonesia 4.0.

Manufaktur
Donang Wahyu|KATADATA

Pemerintah memastikan tak hanya berfokus pada kebijakan pengendalian impor melalui kenaikan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 terhadap 1.147 komoditas impor untuk membantu memulihkan kondisi nilai rupiah yang melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan neraca transaksi berjalan. Ekspor dalam negeri pun juga akan didorong agar mata uang Garuda tersebut kembali menguat.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Haris Munandar mengatakan, peningkatan ekspor cukup penting dalam mengerek penguatan rupiah. Saat ini, lanjutnya, pemerintah memprioritaskan peningkatan ekspor melalui lima sektor industri manufaktur yang masuk dalam program Making Indonesia 4.0.

Kelimanya, yakni otomotif, tekstil dan alas kaki, elektronik, kimia, serta industri makanan dan minuman. "Kami kan sudah ada lima sektor industri prioritas 4.0, ini akan kami dorong terus," kata Haris di kantornya, Jakarta, Senin (10/9).

(Baca : Jokowi Siapkan Langkah Jangka Pendek Hadapi Tekanan Rupiah)

Peningkatan ekspor juga akan didorong pada sektor industri berbasis sumber daya alam (SDA). Alasannya, tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) pada industri berbasis SDA masih cukup tinggi.

Selain itu, Kemenperin juga berupaya mendorong pemberian insentif subsidi suku bunga kredit ekspor bagi industri. Nantinya, suku bunga kredit ekspor dari yang semula sebesar 6%  akan diturunkan menjadi 2%-3% melalui bank dalam negeri.

Dengan dorongan tersebut, Haris menargetkan pertumbuhan ekspor dari industri manufaktur dapat mencapai 5,5%-5,7% pada tahun ini. "Kalau bisa 6%, tapi berat kan dalam kondisi sekarang," kata Haris.

(Baca juga : Ekspor Lesu, Kemendag Minta Eksportir Tingkatkan Produk Nilai Tambah)

Haris mengatakan, dorongan ekspor ini mustahil mengatasi pelemahan rupiah jika tak diimbangi masuknya Devisa Hasil Ekspor (DHE) ke dalam negeri. Pasalnya, selama ini banyak DHE yang terparkir di luar negeri.

Karenanya, Kemenperin akan mendorong industri berbasis ekspor menggunakan bank dalam negeri untuk membuat letter of credit (L/C). "Ya karena salah satu cara yang paling tepat dalam rangka mengatasi gejolak rupiah adalah bagaimana kita mendorong ekspor, tapi harus dibarengi masuknya devisa ke dalam negeri dulu," kata Haris.

(Baca : Ini Penyebab Ekonomi Tumbuh Tinggi Meski Investasi dan Ekspor Melemah)

 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha