Pengutang Membeludak, Fintech Pembiayaan Masih Minim Investor

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Pingit Aria

12/12/2018, 05.00 WIB

Imbal hasil investasi di fintech disebut lebih tinggi dari bunga deposito.

Pameran fintech
Katadata

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah peminjam financial technology (fintech) peer to peer lending naik dari 330.154 per Januari menjadi 2,3 juta akun pada September 2018. Sementara jumlah investornya ‘hanya’ naik dari 115.939 menjadi 161.297 akun per September 2018.

Project Leader ukmindonesia.id Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Dewi Meisari Haryanti menyatakan, minimnya jumlah investor di fintech lending adalah karena kurangnya sosialisasi. "Saya kira banyak yang belum teredukasi mengenai investasi di fintech lending," kata dia di Kantor Amartha, Jakarta, Selasa (11/12).

Berdasarkan data Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI) OJK, jumlah rekening tabungan di perbankan mencapai 199,3 juta akun. Artinya, jumlah investor di fintech lending hanya 0,081% dari jumlah akun tabungan di bank. "Padahal imbal hasilnya lebih tinggi dibanding deposito," ujar Dewi.

Jumlah investor di fintech lending juga masih kalah dibanding di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang mencapai 509.842 investor. Investor fintech juga masih kalah dibanding investor reksa dana yang mencapai 566.234.

(Baca juga: Pemerintah Uji Coba Penyaluran Kredit Ultra-Mikro Lewat Sistem Digital)

Padahal, jumlah peminjam di fintech lending mencapai 14,1% dari rekening kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di bank. Itu pun jumlah rekening kredit UMKM tumbuh 85% selama tujuh tahun. Sementara pertumbuhan akun peminjam di fintech lending mencapai 597% dalam kurun waktu sembilan bulan.

Adapun penyaluran pinjaman melalui fintech lending sudah mencapai Rp 13,83 triliun per September 2018. Sementara OJK menargetkan penyaluran pinjamannya mencapai Rp 20 triliun hingga akhir tahun ini. "Ini menunjukan bahwa penduduk di perdesaan lebih haus permodalan yang ramah UMKM," kata Dewi. 

Di lain kesempatan, Gita salah seorang peminjam fintech lending Uang Teman menyampaikan bahwa ia mulai meminjam sejak 2016. Pinjaman itu ia gunakan untuk modal berdagang aksesoris atau keperluan anak usia di bawah tiga tahun (batita). Ia pun sudah meminjam sebanyak 50 kali melalui platform Uang Teman.

Menurutnya, kunci untuk memaksimalkan pinjaman dari fintech adalah meminjam sesuai kemampuan. "Aku biasanya pinjam disesuaikan kemampuannya saja. Biasanya (tenor pinjaman) hanya dua minggu," kata dia beberapa waktu lalu (6/11).

Sementara itu, pemberi pinjaman di Amartha, Rudy menyampaikan bahwa imbal hasil (return) yang ditawarkan cukup besar. "Risikonya juga minim karena skemanya tanggung renteng," kata dia sebagaimana dikutip dari situs resmi Amartha.

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha