BMKG Minta LIPI Uji Alat Sensor Laser Tsunami Sebelum Digunakan

Penulis: Ameidyo Daud

Editor: Hari Widowati

3/1/2019, 18.53 WIB

Pengujian dapat dilakukan LIPI beserta pakar dari sejumlah kampus.

Tsunami Selat Sunda
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Papan petunjuk arah evakuasi bencana tsunami yang ada di kawasan Panimbang, Pandeglang, Banten, Selasa (25/12/2018).

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) meminta alat fiber bragg grating based tsunami sensor alias sensor laser dengan kabel fiber yang ditawarkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) diuji coba sebelum digunakan. Jika tidak, risiko kegagalan sistem deteksi pada alat ini tidak bisa diketahui.

Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhamad Sadly khawatir apabila purwarupa alat ini langsung dioperasikan. Meski menyambut baik adanya teknologi baru, Sadly menginginkan sebuah alat yang teruji dan bukan alat uji coba dalam memantau tsunami. "Harus teruji, makanya ada pengujian terlebih dulu," kata Sadly, di Jakarta, Kamis (3/1).

Pengujian dapat dilakukan LIPI beserta pakar dari sejumlah kampus. Selain itu, uji coba bisa juga digelar oleh Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen) yang di dalamnya ada tim BMKG, universitas, hingga LIPI sendiri. "Justru senang kalau ada alat dalam negeri, tapi harus proven (teruji), bukan purwarupa," ujar dia.

Dia menambahkan, dalam sistem peringatan dini tsunami, LIPI berada di hilir untuk sosialisasi hingga meneliti mitigasi bencana tersebut. Sedangkan BMKG, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), hingga Badan Informasi Geospasial yang mengolah data awal. "Jadi kalau di struktur itu ada yang mengolah data sebelum ke hilirnya," ujar dia.

(Baca: Ketimbang Buoy, LIPI Tawarkan Deteksi Tsunami dengan Sensor Laser)

Sadly juga beranggapan di dunia ini belum ada yang bisa mengetahui potensi tsunami dari longsoran gunung seperti yang terjadi di Selat Sunda. Oleh sebab itu, sistem deteksi tsunami yang dibangun BMKG berdasarkan adanya gempa tektonik. "Sebesar 90% tsunami karena gempa tektonik," ujarnya.

Kepala LIPI Laksana Tri Handoko mengatakan, model sensor tsunami yang dikembangkan LIPI ini relatif tahan gangguan lantaran diletakkan di dasar laut dan tidak berbahan korosif. Adapun sensor yang berbentuk pelampung (buoy) lebih rentan tidak berfungsi karena mengapung di permukaan. "Bisa saja tertabrak kapal dan diterjang ombak, jadi kalau tidak berfungsi itu bukan karena hilang," kata Laksana, kemarin.

(Baca: Mitigasi Bencana, Badan Geologi Minta Dilibatkan dalam RTRW Daerah)

Reporter: Ameidyo Daud

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha