Masih Mahal, Penurunan Harga BBM Pertamax Dinilai Belum Efisien

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

14/1/2019, 19.08 WIB

Harga keekonomian Pertamax tanpa margin sebesar Rp 8.250 per liter. Sedangkan yang dijual masyarakat Rp 10.200 per liter.

Pertamina
Pertamina
SPBU

Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax dinilai masih belum efisien meski sudah mengalami penurunan. Ini karena harga BBM beroktan 92 itu masih terlalu mahal.

Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fraksi Hanura INas Nasrullah Zubir mengatakan harga keekonomian Pertamax saat ini adalah Rp 8.250 per liter. Ini belum memasukkan margin pengusaha Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Harga keekonomian sebesar Rp 8.520 per liter itu dihitung Inas dengan asumsi harga rata-rata  dari pelabuhan keberangkatan (Free on Board/FoB) untuk Mean of Platts Singapore (MOPS) RON 92 sebesar US$ 70 per barel. Lalu, ditambah rata-rata biaya kargo Singapura ke Indonesia sebesar US$ 3 per barel, dan diskonnya sebesar US$ 1 per barel. Jika semua komponen itu dijumlahkan, maka harga trader adalah US$ 74 per barel.

Harga trader itu lalu dikalikan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (kurs) Rp 14.135 per US$. Setelah itu dibagi 159 dan ditambah biaya distribusi Rp 830 per liter. Hasilnya, harga keekekonomian untuk Pertamax itu sebelum pajak sebesar Rp 7.409 per liter. Kemudian, ditambah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10% dan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (BPPKB) sebesar 5%.

Perhitungan tersebut, kata Inas, dengan asumsi Pertamax yang dijual Pertamina berasal dari impor. Sedangkan, biaya produksi kilang Pertamina lebih tinggi dibandingkan dengan impor karena kondisi kilang yang sudah tua dan membuat inefisiensi tinggi.

Adapun, harga Pertamax yang dijual Pertamina kepada masyarakat di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) sejak 5 Januari 2019 sebesar Rp 10.200 per liter. Harga itu turun Rp 200 per liter dari harga sebelumnya.

(Baca: Mulai Hari Ini, Harga Pertamax, Pertalite, Dex Turun Hingga Rp 250)

Alhasil, Inas beranggapan bahwa penurunan harga BBM yang dilakukan Pertamina masih belum maksimal. Apalagi ada perbedaan selisih harga antara keekonomian dan harga jualnya sebesar Rp 1.680 per liter. "Harganya belum efisien," kata Inas kepada Katadata.co.id, pekan lalu.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha