Sebanyak 127 Fintech Pinjaman Sudah Melayani 15 Juta Penduduk

Penulis: Cindy Mutia Annur

Editor: Desy Setyowati

24/9/2019, 19.04 WIB

OJK mencatat, total kebutuhan pembiayaan untuk nelayan, petani, perajin, dan peternak mencapai US$ 70 miliar.

OJK menyebutkan bahwa 127 fintech lending sudah memberikan pinjaman kepada 15 juta nasabah
Katadata/Arief Kamaludin
Ilustrasi, suasana pameran Indonesia Fintech Festival and Conference 2016, Tangerang, Banten, Selasa, (30/08). OJK menyebutkan bahwa 127 fintech lending sudah memberikan pinjaman kepada 15 juta nasabah.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan ada 127 perusahaan teknologi finansial pinjam-meminjam (fintech lending) yang terdaftar saat ini. Setidaknya, pelaku usaha di industri ini sudah melayani 15 juta nasabah.

OJK pun mendorong fintech pinjaman untuk melayani lebih banyak masyarakat yang belum memiliki rekening bank (unbanked) atau belum terlayani (underserved). Sebab, Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK Hendrikus Passagi mencatat, jumlah masyarakat unbanked dan underserved masih cukup banyak.

Berdasarkan data OJK, ada 100 juta penduduk Indonesia yang merupakan nelayan, petani, perajin, dan peternak. Setidaknya, mereka membutuhkan pinjaman hingga US$ 70 miliar.

Dari total kebutuhan itu, pembiayaan yang disalurkan fintech pinjam-meminjam baru mencapai US$ 3 miliar. Karena itu, ia mendorong pelaku usaha di industri ini untuk semakin gencar menyalurkan pinjaman ke masyarakat unbanked dan underserved.

“Kami sangat mendorong agar para fintech lending semakin meningkatkan kapasitasnya (dalam memberikan pembiayaan) ke masyarakat," kata Hendrikus di acara Fintech Summit di JCC, Jakarta, Selasa (24/9). 

(Baca: Regulator dan Asosiasi di ASEAN Antisipasi Lima Risiko Terkait Fintech)

OJK pun telah mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan fintech pinjam-meminjam untuk menyalurkan pembiayaan ke sektor produktif minimal 20%. Hendrikus memperkirakan, jumlah perusahaan yang terdaftar bakal bertambah sehingga bisa meningkatkan pembiayaan ke masyarakat. 

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Adrian Gunadi mengklaim, fintech lending memiliki kontribusi yang cukup besar bagi Indonesia. Berdasarkan riset AFPI bersama INDEF, industri ini berkontribusi Rp 60 triliun terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

"Selain itu, fintech lending telah membantu dalam menciptakan 332 lapangan pekerjaan, khususnya dengan memberikan pinjaman modal kepada usaha mikro, kecil, menengah (UMKM)," katanya. 

(Baca: OJK: Inklusi Keuangan Meningkat Pesat Meski Belum Capai Target 75%)

Data OJK menunjukkan, hanya 12% dari total 59 juta UMKM yang sudah mendapat akses keuangan. Padahal, sektor ini berkontribusi 60% terhadap PDB Indonesia.

"Fintech berusaha menemukan cara untuk mengambil 40% masyarakat yang tidak memiliki rekening bank. Inilah mengapa saya percaya bahwa fintech, melalui dukungan dan bimbingan yang tepat dari regulasi, akan dengan cepat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia," kata Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Nurhaida.

(Baca: Menteri Darmin Beri Empat Tugas kepada Pelaku Industri Fintech)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan