Tak Mudah Meledak, Limbah Nikel Akan Dikeluarkan dari Daftar B3

Penulis: Rizky Alika

Editor: Ameidyo Daud

27/9/2019, 20.16 WIB

KLHK akan memeriksa limbah tambang tiga perusahaan. Uji karakteristik dilakukan hingga mendapat akreditasi dan standar mutu oleh KLHK.

Tambang, Nikel, Limbah B3.
Katadata
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) siap mengeluarkan limbah tambang (slag) nikel dari kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Uj coba dilakukan di tiga perusahaan tambang yakni Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) siap mengeluarkan limbah tambang (slag) nikel dari kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Uji coba dilakukan dari tambang tiga perusahaan yakni PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), PT Vale Indonesia Tbk, dan PT Aneka Tambang Tbk.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan mengeluarkan limbah tambang atau slag nikel dari kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Untuk itu, KLHK akan memeriksa limbah dari tambang tiga perusahaan.

Ketiga perusahaan tersebut adalah PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP), PT Vale Indonesia Tbk, dan PT Aneka Tambang Tbk di Pomalaa (Sulawesi Tenggara). Uji karakteristik limbah di laboratorium dilakukan hingga mendapat akreditasi dan standar mutu oleh KLHK.

“Karena slag nikel tidak mudah meledak, tidak menimbulkan infeksi, dan bukan korosif,” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 Rosa Vivien Ratnawati di Kantor Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (27/9).

(Baca: Pemanfaatan Limbah Smelter Menunggu Regulasi Kementerian LHK)

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014, limbah dapat dikecualikan dari status B3 asal produsennya melakukan uji karakteristik. Tes dilakukan untuk mengetahui apakah suatu bahan beracun hingga mudah meledak.

Rosa memperkirakan, proses uji coba tiga perusahaan tersebut akan berlangsung selama tiga minggu. Jika hasilnya positif, limbah slag dapat diolah oleh perusahaan atau pemerintah. Namun tidak semua limbah slag akan dikecualikan dari B3. “Tergantung kadar Kromium,” ujarnya.

Ketentuan keluarnya limbah slag bakal diatur dalam Peraturan Menteri LHK. Beleid tersebut akan menentukan secara spesifik tiap perusahaan yang ingin mengolah limbah untuk uji karakteristik terlebih dulu.

Dia mengatakan metode pengujian pada masing-masing perusahaan akan sama. Pengujian dilakukan berjenjang untuk menerapkan prinsip kehati-hatian. Namun penyederhanaan mekanisme akan dilakukan agar prosesnya tidak panjang. "Dan tidak semua slag dihantam habis keluar dari B3,” ujar dia.

(Baca: Pemerintah Rencanakan Pemanfaatan Limbah Tambang Smelter)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pengolahan limbah slag nikel dapat dilakukan dengan mencontoh luar negeri. “Di negara lain bisa diproses jadi beton bangunan," ujar Darmin.

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan