Gandeng Fintech Pembiayaan, Kelangsungan Usaha Bisa Terjaga hingga 80%

Penulis: Desy Setyowati

2/10/2019, 19.41 WIB

Sektor perdagangan, konstruksi skala kecil hingga ekonomi kreatif dinilai butuh layanan fintech lending.

Para pembiacara dalam diskusi bertajuk ‘Kiat Melancarkan Arus Kas Bisnis’ di Jakarta, Rabu (2/10). Riset Bank of America menunjukkan, pengusaha yang merencanakan arus kas secara bulanan bisa menjaga keberlangsungan bisnisnya hingga 80%.
Katadata/desy setyowati
Para pembiacara dalam diskusi bertajuk ‘Kiat Melancarkan Arus Kas Bisnis’ di Jakarta, Rabu (2/10). Riset Bank of America menunjukkan, pengusaha yang merencanakan arus kas secara bulanan bisa menjaga keberlangsungan bisnisnya hingga 80%.

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Jakarta Raya (HIPMI Jaya) menilai, perusahaan teknologi finansial pembiayaan (fintech lending) berpeluang menjaga keberlangsungan usaha di Tanah Air. Sebab, pengusaha bisa menjaga arus kas (cashflow) bisnisnya lewat layanan pinjam-meminjam itu.

Riset Bank of America menunjukkan, pengusaha yang merencanakan arus kas secara bulanan bisa menjaga keberlangsungan bisnisnya hingga 80%. Sedangkan pebisnis yang mengatur arus kas secara tahunan hanya bisa menjaga keberlangsungan bisnis 39%.

“Pengusaha bisa mengajukan pinjaman tanpa agunan lewat fintech pembiayaan untuk menjaga cashflow,” kata Ketua Umum BPD HIPMI Jaya Afifuddin Kalla saat diskusi bertajuk ‘Kiat Melancarkan Arus Kas Bisnis’ di Jakarta, Rabu (2/10). Ia menegaskan, arus kas penting untuk keberlangsungan usaha.

Saat ini, HIPMI bekerja sama dengan tiga fintech lending yakni Modalku, Akseleran dan Alami. Afif memang belum memiliki catatan terkait jumlah anggotanya yang menggunakan layanan pembiayaan ini. “Namun, feedback-nya, fintech memudahkan mereka mengatur cashflow,” kata dia.

(Baca: Sebanyak 127 Fintech Pinjaman Sudah Melayani 15 Juta Penduduk)

Keponakan Wakil Presiden Jusuf Kalla ini mengatakan, ada beberapa sektor yang membutuhkan layanan pembiayaan dari fintech. Ia mencontohkan, perusahaan di bidang perdagangan, konstruksi skala kecil hingga ekonomi kreatif. “Kalau dapat proyek kan mereka butuh modal,” katanya.

Ia menjelaskan, perekonomian domestik dihadapkan pada berbagai tantangan, salah satunya perang dagang Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Karena itu, pengusaha butuh kemudahan dalam mengatur arus kas.

“Banyak proyek infrastruktur yang sudah dibangun, tetapi belum menghasilkan uang. Fenomena ini dalam lima tahun ke depan bakal menurun, karena ada kesulitan cashflow,” kata dia. Padahal, menurutnya sektor padat karya dan kuliner berpotensi untuk tetap berkembang meski ada ketidakpastian ekonomi.

(Baca: Menteri Darmin Beri Empat Tugas kepada Pelaku Industri Fintech)

Co-Founder sekaligus CEO Modalku Reynold Wijaya menyampaikan, perusahaanya menyediakan layanan pembiayaan dengan invoice. Peminjam bisa menggunakan invoice atau tagihan yang belum terbayar untuk mengajukan pinjaman. Ia menilai, produk ini cocok untuk usaha yang membutuhkan arus kas secepat mungkin.

Saat ini, induk usaha Modalku yakni Funding Societies telah menyalurkan Rp 9,13 triliun pinjaman kepada sekitar satu juta peminjam di regional. Lebih dari Rp 5 triliun di antaranya disalurkan ke peminjam di Indonesia, yang mayoritas adalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

(Baca: Menteri Darmin: Fintech di Indonesia Hadapi Empat Tantangan)

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan