Menkominfo Minta Google Buat Pusat Data Terintegrasi dengan Pemerintah

Penulis: Cindy Mutia Annur

Editor: Desy Setyowati

20/11/2019, 17.41 WIB

Pemerintah bakal membuat komputasi awan (cloud) milik negara, yang ditarget rampung pada 2022.

Menteri Kominfo Johnny G plate meminta Google membuat pusat data yang terintegrasi dengan sistem pemerintah
ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMAY
Ilustrasi, seorang pria membuka laman Google dari gawainya di Jakarta, Jumat (12/4/2019).

Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Johnny Gerard Plate meminta, Google membuat pusat data yang terintegrasi dengan sistem pemerintah. Hal ini untuk memastikan data pengguna ada di dalam negeri.

Memasuki era digital, infrastruktur tersebut sangat dibutuhkan. "Saya minta Google, mari siapkan data center di teritorial di sini. Bersama-sama kami pastikan bahwa Indonesia memiliki pusat data terintegrasi," kata Johnny saat menghadiri acara #Google4ID di Jakarta, Rabu (20/11).

Johnny berjanji bakal berdiskusi dengan para ahli dan pemangku kebijakan di beberapa negara terkait penggunaan data. Hal ini bertujuan memastikan kedaulatan data dan memaksimalkan pemanfaatannya untuk Indonesia dan dunia.

Ia menilai, ada beberapa infrastruktur yang dibutuhkan di era digital ini. Di antaranya frekuensi, pusat data hingga regulasi primer yang memadai. Saat ini, kementeriannya tengah mengkaji Rancangan Undang-undang Perlindungan Data Pribadi (RUU PDP).

(Baca: Pemerintah Target Bisa Simpan Data di Cloud Milik Negara pada 2022)

Pembahasan RUU itu pun masuk Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2020. "Karena Indonesia butuh kepastian terhadap perlindungan data pribadi," katanya. 

Google memang berencana meluncurkan pusat data untuk cakupan Asia Tenggara atau region cloud di Jakarta pada semester I 2020. Sebab, perusahaan melihat potensi bisnis komputasi awan (cloud computing) di Indonesia sangat potensial.

Regional Director Google Cloud for Southeast Asia Tim Synan menilai, Indonesia merupakan kekuatan digital di Asia Tenggara. Riset Boston Consulting Group (BCG) memperkirakan, penerapan cloud public dapat berkontribusi US$ 40 miliar bagi Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia secara kumulatif dari 2019 hingga 2023.

Nilai tersebut setara dengan 0,6% PDB tahunan nasional. Komputasi awan berkontribusi lebih dai 85% terhadap dampak bisnis digital native dan startup di Indonesia. 

(Baca: Potensi Bisnis Besar, Google Bakal Luncurkan Region Cloud di Jakarta)

Tim menyebut, Indonesia akan menjadi wilayah ke-21 untuk Region Cloud Google di dunia. "Kami melakukan (peluncuran pusat data) ini atas permintaan pelanggan,” kata dia, beberapa waktu lalu (5/9).

Di Indonesia, beberapa startup dan unicorn sudah memakai layanan komputasi awan Google. Beberapa di antaranya Bukalapak, Tokopedia, Traveloka, Gojek, Tiket.com, XL, Axiata, Ruangguru, Blibli, Alfamart, Cineplex 21, dan Warung Pintar.

Saat ini, Google berfokus membangun solusi dalam lima kategori. Di antaranya memodernisasi infrastruktur, manajemen data, analisis bisnis pintar, teknologi seperti dkecerdasan buatan (Artificial Inteligence/AI) dan mesin pembelajar (machine learning), serta kolaborasi.

(Baca: Mastel Soroti Masalah Aturan Tak Batasi Data Disimpan di Luar Negeri)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan