Marak Video Prank YouTuber, Ini Kata Asosiasi Ojek Online & Ahli Hukum

Penulis: Cindy Mutia Annur

Editor: Desy Setyowati

28/11/2019, 08.03 WIB

Prank Youtuber dengan konten order fiktif terhadap pengemudi ojek online termasuk melanggar hukum perdata.

Asosiasi Ojek Online dan Ahli Hukum tanggapi Maraknya Video Prank YouTuber
ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA
Ilustrasi, sejumlah pengemudi ojek daring (online) menunggu penumpang di depan Stasiun Pondok Cina, Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (11/6/2019).

Belakangan ini marak konten video gurauan atau prank oleh para YouTuber terhadap pengemudi ojek online. Gabungan Aksi Roda Dua (Garda) menyayangkan hal tersebut, karena dianggap mengeksploitasi para pengemudi demi keuntungan YouTuber.

Ketua Presidium Garda Igun Wicaksono tidak setuju dengan YouTuber yang memanfaatkan kondisi perekonomian pengemudi ojek online yang sulit untuk mendulang popularitas. “Kami jadi kurang respect,” kata dia kepada Katadata.co.id, Rabu (27/11).

Sejauh ini memang belum ada yang melapor secara resmi ke Garda terkait video prank para YouTuber. Namun, berdasarkan pantauan Garda di beberapa media sosial, banyak pengemudi ojek online yang mengeluhkan hal tersebut. “Ada yang berkomentar di channel YouTube yang bersangkutan,” katanya.

Umumnya, video prank itu memuat konten order pesan-antar makanan fiktif. Selebritas Nikita Mirzani misalnya, membuat video bertajuk ‘Tukang Ojol Ini Ketakutan!! Nyai Ngamuk Sampe Bikin Panik!!.

(Baca: Ditjen Pajak Intip Rekening Youtuber Bersaldo di Atas Rp 1 Miliar)

Dalam video itu, Nikita berpura-pura memarahi asisten rumah tangganya karena memesan pizza dan membawa masuk pengemudi ojek online. Ia juga menyalahkan pengemudi tersebut karena masuk ke rumahnya.

Setelahnya, perempuan yang akrab disapa Nyai itu memberikan uang kepada pengemudi ojek online tersebut. Video itu disaksikan lebih dari 9,5 juta kali sejak 14 November lalu. YouTube Nikita pun memiliki sekitar 1,33 juta subscriber.

Ada juga akun @hasanjr11 yang membuat video prank bertema ‘Order Pizza 1.000.000 Gw Cancel, Terus Gw Ga Ngaku Kalo Order! Bapak Ini Nangis’. Konten tersebut telah ditonton lebih dari 6,1 juta kali sejak dua minggu lalu. Ia memiliki 3,33 juta subscriber di akun YouTube-nya.

Lalu, akun Joe Reny Vlog yang membuat video berjudul ‘Order Makanan 1.000.000 Aku Cancel, Cewe Cantik Ini Gak Mau Tau! Mas Ini Nangis’. Konten itu disaksikan lebih dari 2,1 juta kali sejak 17 November lalu. Joe memiliki 2,08 juta subscriber di akun YouTube-nya.

Konsultan Hukum Robertus Ori Setianto mengatakan, pengemudi ojek online bisa melaporkan konten video prank tersebut. "Kalau tidak ada persetujuan untuk mengunggah video, maka (YouTuber) bisa dituntut," kata Robertus kepada Katadata.co.id.

(Baca: Google Ungkap Sebab YouTube Atta Halilintar dan Ria Ricis Diminati)

Hal senada disampaikan oleh Togar SM Sijabat . Konsultan hukum dari Togar SM Sijabat dan Rekan ini mengatakan, prank video oleh YouTuber dapat ditinjau dari aspek hukum perdata. Sebab, aktivitas jasa pesan-antar makanan lewat ojek online memunculkan adanya ikatan antara konsumen dengan pengemudi.

Hal itu tertuang dalam bagian syarat dan ketentuan di aplikasi ojek online, tertulis bahwa pemesan dapat membatalkan transaksi sebelum pengemudi membeli produk. "Jika pemesan (setidaknya) setelah mengetahui makanannya sudah dibeli bahkan diantarkan oleh pengemudi ojek online ke tempat tujuan, maka ada hubungan perdata yang dilanggar oleh pemesan," kata dia dikutip dari Hukum Online, Senin (25/11) lalu.

Togar menyampaikan, yang timbul dari hubungan pada saat pesan-memesan makanan adalah perjanjian. Hal ini sebagaimana tertulis pada Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata).

Pasal itu berbunyi, “semua persetujuan yang dibuat sesuai dengan UU berlaku sebagai UU bagi mereka yang membuatnya. Persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh UU. Persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik.”

Maka, jika terjadi penyimpangan dalam perjanjian pesan-antar makanan maka bisa dilakukan tuntutan ganti rugi. Hal ini diatur dalam Pasal 1243 KUH Perdata.

(Baca: Kominfo: KPI Belum Berwenang Awasi Konten Netflix dan YouTube)

Pasal berbunyi, “penggantian biaya, kerugian dan bunga karena tak dipenuhinya suatu perikatan mulai diwajibkan, bila debitur, walaupun telah dinyatakan lalai, tetap lalai untuk memenuhi perikatan itu, atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dilakukannya hanya dapat diberikan atau dilakukannya dalam waktu yang melampaui waktu yang telah ditentukan.

Togar pun mengimbau para YouTuber yang melakukan prank mengingat bahwa pengemudi ojek online umumnya merupakan rakyat berpenghasilan kecil. Mereka harus bekerja keras untuk mendapatkan upah angkut dari jasa pengantaran makanan.

Bahkan, beberapa di antara pengemudi ojek online mengeluarkan uang lebih untuk layanan itu. "Sebaiknya, dipikirkan matang-matang untung ruginya jika Anda melakukan pemesanan dengan permintaan membayar terlebih dahulu, sebab modal mereka pun umumnya sangat kecil. Apalagi jika Anda berniat mengerjai," katanya.

 (Baca: Kominfo Tak Temui Pelanggaran Lagu "Lah Bodo Amat" Youtuber Young Lex)

Reporter: Cindy Mutia Annur

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan