Bisnis Perhotelan di Tanah Air Turun Drastis Akibat Penyebaran Corona

Penulis: Rizky Alika

Editor: Yuliawati

5/3/2020, 19.23 WIB

Penurunan tingkat okupansi hotel diperkirakan berlangsung selama dua hingga tiga pekan ke depan.

wisata, virus corona, virus korona, bisnis hotel
ANTARA FOTO/Ampelsa
Pengunjung menikmati pemandangan bahari di kafe terapung dengan bangunan menyerupai menara eiffel di Pantai Wisata Desa Bayeun Kecamatan Leupung, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Sabtu (29/2/2020).

Pantau Data dan Informasi terbaru Covid-19 di Indonesia pada microsite Katadata ini.

Penyebaran virus corona atau Covid-19 di Indonesia membuat tingkat keterisian (okupansi) hotel menurun. Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana mengatakan tingkat keterisian (okupansi) hotel menurun drastis karena wisatawan lokal mengurangi bepergian.

Dalam keadaan normal, tingkat okupansi saat sepi pengunjung (low season) biasanya berkisar 50-60%. "Saat ini turun drastis, hanya 20%," kata Maulana di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (5/3).

Menurutnya, tingkat okupansi tersebut menurun lantaran wisatawan nusantara khawatir untuk naik pesawat karena rawan tertular corona. Hotel dan tempat penginapan yang tingkat okupansi menurun terutama terjadi di luar Pulau Jawa.

(Baca: Diskon Tiket Pesawat 50% Diperpanjang jika Virus Corona Belum Reda)

Meski begitu, ia memperkirakan penurunan tingkat okupansi hanya berlangsung selama dua hingga tiga pekan sejak pemerintah mengumumkan kasus dua WNI yang terinfeksi corona. Sebab, ia menilai karakter para wisatawan lokal hanya mengalami kepanikan untuk sementara waktu.

Ia pun berharap, pemerintah dapat mengawasi pintu transportasi dengan ketat, sekaligus tetap memberikan kenyamanan dan keamanan dalam perjalanan. Upaya tersebut dilakukan oleh Singapura sehingga para wisatawan tetap nyaman saat bepergian di dalam negeri di tengah wabah corona. "Perlu ada pemindai temperatur, tapi jangan sampai membuat antrean," ujar dia.

Berkurangnya okupansi hotel bila berkelanjutan berpotensi membuat bangkrut. "Bila bulan April masih sepi, apalagi akan masuk bulan puasa, ini bahaya,” ujarnya.

Melemahnya pariwisata juga diprediksi berdampak pada industri retail. Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan, industri retail berpotensi kehilangan omzet sebesar US$ 48 juta atau sekitar Rp 652 miliar seiring menurunnya kunjungan turis terutama dari Negeri Panda dalam dua bulan terakhir. Gangguan sektor retail terjadi di Manado, Bali, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Medan, dan Jakarta.

(Baca: Asosiasi Pengusaha Sebut Penjualan Turun hingga 30% Imbas Corona)

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan