OPEC Ramal Permintaan Minyak Dunia Tumbuh Melambat pada 2023

Happy Fajrian
14 Juli 2022, 16:24
opec, permintaan minyak, harga minyak
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.
Pekerja berjalan di kapal tongkang akomodasi (Barge 222) Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Selasa (14/6/2022).

Organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) memprediksi permintaan minyak global akan melambat pada 2023. Adapun permintaan didorong oleh masih kuatnya pertumbuhan ekonomi Cina meski di tengah pembatasan Covid-19 berkepanjangan.

Dalam laporan bulanannya, OPEC menyebut permintaan minyak akan sebesar 2,7% atau 2,7 juta barel per hari (bph) pada 2023 dibandingkan tahun ini. Adapun proyeksi permintaan minyak tahun ini tak berubah di level 3,36 juta bph.

Konsumsi minyak telah berbalik naik setelah anjlok imbas berbagai pembatasan pandemi Covid-19 pada 2020 dan 2019. Dalam outlooknya, OPEC menyebut ketatnya pasokan minyak masih menjadi masalah karena produksi negara non OPEC, yang terdampak oleh hilangnya pasokan Rusia, diperkirakan akan menahan laju permintaan.

“Pada 2023 ekspektasi pertumbuhan ekonomi global yang sehat di tengah perbaikan perkembangan geopolitik, dikombinasikan dengan ekspektasi perbaikan dalam penahanan Covid-19 di Cina, diharapkan dapat mendorong konsumsi minyak,” kata OPEC dalam laporannya, dikutip Kamis (14/7).

Perkiraan permintaan minyak OPEC untuk 2023 lebih optimis daripada Badan Energi Internasional dan lembaga lainnya yang lebih pesimis. Delegasi OPEC juga menyebut perlambatan permintaan minyak yang lebih tajam karena tingginya harga.

“Perkiraan 2023 mengasumsikan tidak akan ada eskalasi perang di Ukraina dan bahwa risiko seperti inflasi tidak berdampak besar pada pertumbuhan ekonomi global,” kata OPEC.

OPEC mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi global tahun ini di 3,5% dan memperkirakan pertumbuhan 3,2% pada 2023, menambahkan ketidakpastian condong ke potensi sisi bawah dan sisi atas "cukup terbatas".

Sementara itu harga minyak acuan dunia, Brent, kini bergerak di kisaran US$ 99-100 per barel, jauh di bawah rekor tertingginya pada Maret di level US$ 139 per barel. Simak databoks berikut:

Produksi OPEC Kunci Seimbangkan Pasar

Prospek pasokan untuk 2023 menunjukkan bahwa pasar bisa tetap ketat. OPEC memperkirakan pasokan non-OPEC akan meningkat sebesar 1,7 juta bph, jauh di bawah pertumbuhan permintaan dan perlambatan dari 2022.

Akibatnya, OPEC memperkirakan dunia akan membutuhkan 30,1 juta bph pada 2023 dari anggotanya untuk menyeimbangkan pasar, naik 900.000 barel per hari dari 2022 .

Hal ini sulit lantaran OPEC dan sekutunya termasuk Rusia, atau OPEC+, telah berjuang untuk memenuhi kenaikan produksi yang dijanjikan pada tahun 2022 untuk mengurangi pemotongan besar yang dilakukan pada tahun 2020.

Kapasitas produksi cadangan di OPEC telah menipis oleh kurangnya investasi di ladang minyak oleh beberapa anggota. Menambah skeptisisme tentang hal ini, Arab Saudi telah memompa di bawah kuota OPEC meskipun harga mendekati rekor.

Laporan OPEC menunjukkan produksi OPEC melawan tren itu pada Juni, naik 234.000 bph menjadi 28,72 juta bph dengan peningkatan yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.

Meski begitu, Arab Saudi dinilai oleh sumber sekunder yang digunakan OPEC sebagai pemompaan 10,59 juta barel per hari pada Juni, di bawah kuota OPEC. Arab Saudi mengatakan kepada OPEC bahwa mereka memompa 10,65 juta bph, mendekati kuota 10,66 juta bph.

Amerika Serikat diharapkan memberikan kontribusi terbesar untuk pasokan non-OPEC tahun depan meskipun tidak ada percepatan yang diharapkan dalam pertumbuhan minyak serpih.

OPEC memperkirakan pasokan minyak ketat AS, istilah lain untuk serpih, naik 710.000 bph pada 2023, melambat dari 880.000 bph pada 2022, meskipun harga tinggi yang pada tahun-tahun sebelumnya telah mendorong pertumbuhan yang lebih cepat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...