Perusahaan Migas Kakap Kembali Lirik Indonesia, Perlu Aksi Pemerintah

Muhamad Fajar Riyandanu
21 Juli 2022, 16:54
blok migas, wk migas, investasi migas, perusahaan migas kakap
Medco Energi

Pemerintah diminta memfasilitasi perusahaan minyak dan gas (migas) kakap dunia yang disebut-sebut kembali tertarik untuk berinvestasi di Indonesia pasca penemuan sumber daya migas raksasa di Blok Andaman. Potensi blok migas tersebut digadang-gadang sebagai yang terbesar di dunia.

Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Migas Nasional (Aspermigas) Moshe Rizal mengatakan bahwa pemerintah memiliki sejumlah pekerjaan rumah untuk menarik investasi dari perusahaan migas kakap. Menurut dia, pemerintah harus memberikan sejumlah kemudahan fiskal.

Selain itu, pemerintah juga diminta menekan biaya operasi pengembangan wilayah kerja (WK) migas yang dinilai lebih tinggi dua hingga tiga kali lipat daripada negara-negara kompetitor seperti Malaysia, Cina, Australia, atau Qatar.

"Tingginya ongkos pengeboran mempengaruhi capex saat proses eksplorasi. Di satu sisi, produksi juga membutuhkan pengeboran dan biaya operasi yang sangat tinggi. Ini PR bagi pemerintah," kata Moshe kepada Katadata.co.id, Kamis (21/7).

Moshe menambahkan, tingginya beban yang harus ditanggung oleh calon investor berakibat pada meningkatnya asumsi harga migas yang diproduksi di Indonesia, menjadikannya tidak kompetitif. "Berapa perbandingannya? Cukup luar biasa dua sampai tiga kali lebih mahal dengan teknis pengeboran yang sama," ujarnya.

Dia juga mendorong pemerintah untuk mengkaji ulang aturan tender WK migas. Moshe menduga, praktik lelang yang dilaksanakan pemeritah masih dikuasai dan dimonopoli oleh perusahaan besar yang itu-itu saja. Minimnya persaingan bebas menimbulkan adanya monopoli yang membuat harga jadi lebih tinggi.

"Karena dengan persaingan bebas itulah harga bisa turun. Perusahaan berlomba untuk memberikan tawaran ongkos dan pelayanan yang bersaing. Biaya pengeboran kita ini nih, yang terkenal lebih mahal," kata dia.

Selain adanya dugaan monopoli WK migas, faktor yang menyebabkan tingginya biaya investasi di sektor hulu migas di tanah air berasal dari ongkos pengeboran berupa rig dan infrastruktur penunjang hulu migas. Ongkos pengeboran yang tinggi berakibat pada durasi pengembalian investasi yang jauh lebih lama.

"Ini penting bagi investor, di mana akan mempengaruhi keekonomiannya. Mungkin dari situ pemerintah bisa memberikan insentif bukan hanya kepada KKKS saja, tapi kepada industri penunjang, supaya bisa menurunkan harganya," ujar Moshe.

Menteri ESDM), Arifin Tasrif, mengatakan bahwa penemuan potensi gas di Blok Andaman membuat beberapa perusahaan migas kakap dunia kembali tertarik untuk berinvestasi di sejumlah lapangan migas di Indonesia.

"Potensi temuan baru (gas di Andaman) ini menyebabkan beberapa perusahaan migas internasional besar yang dulu hengkang sekarang mulai mendekat lagi," kata Arifin saat ditemui wartawan di Kantor Kementerian ESDM pada Rabu (20/7).

Arifin menduga, langkah para perusahaan migas internasional tersebut disebabkan karena menipisnya pasokan energi global akibat konflik antara Rusia dan Ukraina. "Otomatis memang harus dicari sumber baru yang bisa merespon kekurangan (energi) itu dan mengamankan suplai jangka panjang," katanya.

Dia juga menyampaikan bahwa kembalinya minat sejumlah perusahaan migas kelas kakap tersebut juga merupakan hasil buah kerja pemerintah yang aktif menawarkan potensi temuan sumber daya migas. “Sekarang hasil dari roadshow ini sudah ada respon, tinggal kita bagaimana menyambutnya,” ujar Arifin

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas), Tutuka Ariadji, menyatakan potensi sumber daya gas bumi di Blok Andaman Aceh berada di kisaran 6 triliun kaki kubik (TFC) dari masing-masing tiga blok yang dikembangkan.

Tiga blok tersebut yakni Andaman I yang dikelola oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) Mubadala Petroleum, Andaman II oleh KKKS Premier Oil, dan Andaman III yang saat ini baru akan dieksplorasi oleh KKKS Repsol Andaman B.V di Sumur Rencong-1X di dasar laut sedalam 1,100 meter di Perairan Selat Malaka.

“Kalau dikumpulkan ketiga-tiganya bisa lebih besar dari Masela. Menyebarnya ke Thailand. Mungkin bisa jadi penemuan terbesar di dunia,” kata Tutuka saat ditemui wartawan di Kantor Kementerian ESDM pada Rabu (20/7).

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...