Deret SPBU Swasta yang Impor Bahan Baku BBM Lewat Pertamina, Shell Belum Sepakat
Sejumlah pengelola stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) swasta sudah mencapai kesepakatan dengan Pertamina dalam hal pengadaan impor base fuel. Hal ini dilakukan sebagai solusi untuk mengatasi kelangkaan pasokan BBM di SPBU swasta yang sudah terjadi sejak Agustus 2025.
Base fuel merupakan bahan bakar dasar yang belum dicampur dengan zat tambahan (aditif) dan pewarna. SPBU swasta mengolah base fuel ini sesuai spesifikasi dan racikan masing-masing perusahaan, sebelum akhirnya dijual kepada masyarakat.
Pengadaan impor base fuel secara bisnis ke bisnis (B2B) melalui Pertamina ini berasal dari dorongan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) saat melakukan rapat bersama seluruh SPBU swasta pada Jumat (19/9).
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun menyampaikan secara total pasokan BBM telah dikeluarkan sebanyak 330 ribu barel (MB) yang disalurkan dari kargo impor dari Pertamina Patra Niaga.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM memastikan stok bahan bakar minyak di SPBU swasta akan kembali pulih pada awal bulan depan. Mayoritas SPBU swasta telah selesai melakukan negosiasi pembelian dengan PT Pertamina.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan setidaknya ada tiga SPBU swasta yang melakukan negosiasi dengan Pertamina, yakni PT Vivo Energi Indonesia, PT BP-AKR, dan PT Shell Indonesia. Berdasarkan hasil negosiasi, Pertamina akan mengimpor base fuel sesuai dengan spesifikasi masing-masing SPBU swasta.
Berikut daftar SPBU swasta yang sudah sepakat menggunakan base fuel dari Pertamina:
BP-AKR
PT Aneka Petroindo Raya atau BP-AKR merupakan pengelola jaringan SPBU swasta yang pertama kali mencapai kesepakatan impor BBM dengan Pertamina. Kesepakatan ini pertama kali terjadi pada Oktober 2025.
Pasokan BBM untuk produk BP92 dan BP Ultimate Diesel di SPBU tersebut mulai tersedia pada akhir Oktober 2025.
“Untuk penyaluran pasokan yang sudah dilayani kepada PT APR sebanyak 100 ribu barel (MB) yang akan digunakan untuk SPBU-SPBU BP-AKR”, kata Pj. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun, dalam siaran pers, dikutip Selasa (4/11).
Kurang dari sebulan, pasokan BBM spbu BP-AKR kembali kosong. Perusahaan kemudian kembali mencapai kesepakatan pengadaan impor BBM dari Pertamina pada akhir November.
Pada kesepakatan tahap kedua, BP-AKR mendapatkan pasokan 130 MB base fuel dari Pertamina.
“Untuk penyaluran tahap kedua, pasokan yang dilayani kepada PT APR sebanyak 130 MB dengan total yang disalurkan untuk SPBU-SPBU BP-AKR sejak Oktober sebanyak 230 MB”, kata Roberth dalam siaran pers, dikutip Kamis (27/11).
Vivo Energy
PT Vivo Energy Indonesia (Vivo) menjadi pengelola SPBU swasta kedua yang mencapai kesepakatan impor dari Pertamina. Kesepakatan ini diumumkan Pertamina Patra Niaga pada Senin (24/11).
“Penyaluran pasokan BBM untuk SPBU Swasta Vivo ini sebanyak 100 MB,” kata Roberth dalam siaran pers, Senin (24/11).
Dia menyebut proses pengadaan BBM ke SPBU swasta dilaksanakan melalui beberapa tahapan yang menjunjung tinggi mekanisme compliance dan governance secara Business to Business (B2B).
Proses negosiasi dari sisi jumlah kebutuhan berdasarkan volume permintaan, pelaksanaan tender supplier yang dilakukan dengan aspek GCG dan konfirmasi berulang dengan BU Swasta Vivo, pelaksanaan join Surveyor, sampai dengan mekanisme open book untuk negosiasi aspek komersial dilaksanakan.
Hingga akhirnya proses bongkar dilaksanakan dan diterima BU Swasta Vivo untuk disalurkan kepada masyarakat. Komoditi BBM yang dipasok kepada BU Swasta Vivo ini telah memenuhi seluruh requirements dari BU Swasta Vivo sebagai bentuk komitmen tindak lanjut atas arahan Pemerintah.
SPBU Lainnya
Kementerian ESDM sebelumnya menyebut bahwa Shell Indonesia telah mencapai kesepakatan untuk melakukan pengadaan impor base fuel BBM dari Pertamina Patra Niaga.
“(Jumlah impor) kurang lebih 100 ribu barel (base fuel). Rencananya, tanggal 24 atau 25 ini (base fuel) sudah sampai di titik serah yang disepakati antara Pertamina dengan Shell,” kata Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot Tanjung saat ditemui usai acara Grand Launching Indonesia's Oil and Gas Exploration 2025 di Jakarta, Selasa (25/11).
Dihubungi secara terpisah, Shell Indonesia mengatakan saat ini perusahaan masih dalam tahap pembicaraan dengan Pertamina terkait pengadaan impor base fuel.
“Shell Indonesia ingin menginformasikan bahwa saat ini pembahasan B2B terkait pasokan impor base fuel dari Pertamina Patra Niaga memasuki tahap akhir,” kata President Director & Managing Director Mobility Shell Indonesia Ingrid Siburian kepada Katadata, Selasa (25/11).
Sementara itu, Dirjen Migas mengatakan satu-satunya SPBU swasta yang tidak menambah kuota impor adalah ExxonMobil karena masih memiliki kuota yang cukup. Exxon telah bekerja sama dengan PT Indomobil Prima Energi untuk mendistribusikan BBM dengan merek Mobil.
Berdasarkan paparan Kementerian ESDM, jumlah kuota impor BBM 2025 untuk PT Exxonmobil Lubricants Indonesia mencapai 83.098 kilo liter untuk produk Minyak Bensin RON 92. Menurut dara per 2 Oktober 2025 realisasi impor yang dilakukan Exxonmobil baru mencapai 63 ribu kilo liter atau 76,11%.
