Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter, Kadin Khawatir Konsumsi Rumah Tangga Melemah

Kamila Meilina
11 Juni 2026, 13:03
Kadin, konsumsi masyarakat, Pertamax naik
ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/nym.
Warga berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (29/4/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter atau sekitar 32% perlu dicermati karena berpotensi menambah tekanan terhadap daya beli masyarakat, khususnya kelompok kelas menengah.

Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Organisasi, Komunikasi, dan Pemberdayaan Daerah Kadin Indonesia, Erwin Aksa, mengatakan meski Pertamax merupakan BBM nonsubsidi dan bukan komponen utama angkutan barang maupun transportasi publik, kenaikan harganya tetap dapat memengaruhi pola konsumsi masyarakat.

"Dampak inflasinya mungkin tidak sebesar kenaikan BBM subsidi, tetapi tetap ada tekanan terhadap biaya hidup, terutama bagi kelas menengah yang mobilitas hariannya menggunakan Pertamax," kata Erwin kepada Katadata.co.id, Kamis (11/6).

Kelompok kelas menengah saat ini sudah menghadapi berbagai tekanan, mulai dari kenaikan harga pangan, biaya pendidikan, cicilan, hingga pelemahan daya beli. Dengan bertambahnya pengeluaran untuk bahan bakar, ruang konsumsi rumah tangga berpotensi semakin menyempit.

Ketika biaya transportasi pribadi meningkat, masyarakat cenderung mengurangi pengeluaran yang dianggap tidak prioritas seperti makan di luar rumah, rekreasi, belanja ritel, hingga pembelian barang tahan lama.

"Kenaikan BBM ini bisa membuat ruang konsumsi semakin sempit. Ketika biaya transportasi pribadi naik, masyarakat biasanya akan mengurangi belanja non-prioritas. Ini tentu bisa berdampak ke sektor perdagangan, ritel, UMKM, restoran, dan jasa," ujarnya.

Erwin menilai dampak terhadap harga pangan dan kebutuhan pokok sehari-hari relatif terbatas karena distribusi utama masih mengandalkan Solar dan BBM subsidi. Namun, ia mengingatkan adanya risiko efek rambatan atau second-round effect dari kenaikan biaya operasional sejumlah pelaku usaha.

Menurut dia, tekanan tersebut dapat muncul melalui distribusi jarak pendek, layanan kurir, kendaraan operasional, hingga ekspektasi kenaikan harga di pasar.

"Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kenaikan BBM nonsubsidi ini menjadi alasan kenaikan harga yang tidak proporsional di pasar," katanya.

UMKM dan Logistik Bisa Terimbas

Ia menegaskan kenaikan harga Pertamax sekitar 30% tidak serta-merta membuat harga barang ikut naik dengan besaran yang sama. Besar kecilnya dampak sangat bergantung pada porsi biaya bahan bakar dalam struktur biaya masing-masing sektor usaha.

Untuk barang kebutuhan pokok, kenaikan harga dinilai seharusnya tidak signifikan selama harga Solar subsidi dan biaya logistik utama tetap terkendali. Namun, sektor yang sangat bergantung pada mobilitas dinilai lebih rentan terdampak.

"Sektor seperti transportasi, kurir, logistik ringan, perdagangan ritel, restoran, pariwisata, dan UMKM jasa akan merasakan tekanan yang lebih besar dibanding sektor lainnya," ujar Erwin.

Kadin juga meminta pemerintah mengambil langkah antisipatif agar dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi tidak meluas ke perekonomian. Beberapa langkah yang dinilai penting antara lain menjaga stabilitas pasokan dan harga BBM subsidi, memperkuat pengawasan harga pangan dan biaya logistik, serta memberikan dukungan kepada UMKM dan sektor padat karya.

Selain itu, pemerintah juga diminta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan biaya energi karena kedua faktor tersebut berpengaruh langsung terhadap biaya produksi dunia usaha.



add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...