Rusia Rebut Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Terbesar Eropa di Ukraina

Happy Fajrian
5 Maret 2022, 10:00
pembangkit listrik tenaga nuklir, pltn, zaporizhzhia, rusia, ukraina, perang rusia ukraina
Reuters
PLTN Zaporizhizhia di Ukraina terbakar usai serangan Rusia pada Jumat (4/3). Foto: Reuters

Rusia merebut pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Zaporizhzhia tenggara Ukraina usai serangan yang menyebabkan kebakaran pada Jumat (4/4). Amerika Serikat (AS) dan sekutunya mengecam keras serangan yang disebut sembrono dan membahayakan dunia tersebut.

Duta besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Linda Thomas Greenfield mengatakan bahwa dunia nyaris saja menghadapi bencana nuklir. Banyak dari 15 utusan Dewan Keamanan (DK) PBB yang prihatin dan terkejut, memperingatkan kemungkinan terulangnya bencana Chernobyl 1986.

Advertisement

Mereka menyatakan serangan tersebut bertentangan dengan hukum humaniter internasional dan mendesak Moskow agar tak menargetkan fasilitas nuklir.

“Serangan Rusia menempatkan PLTN terbesar di Eropa dalam bahaya besar. Itu sangat sembrono dan berbahaya dan itu mengancam keselamatan warga sipil di seluruh Rusia, Ukraina, dan Eropa,” kata Thomas Greenfield pada pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB, dikutip Reuter, Sabtu (5/3).

Duta Besar Ukraina untuk PBB Sergiy Kyslytsya menyerukan agar semua pasukan Rusia ditarik dari pabrik dan zona larangan terbang di negara itu untuk melindungi penduduk sipil dari serangan udara.

Para pejabat tetap khawatir tentang keadaan genting, dengan staf Ukraina yang beroperasi di bawah kendali Rusia dalam kondisi medan perang di luar jangkauan administrator.

"Prancis mengutuk keras serangan terhadap integritas struktur nuklir, yang perlu kita jamin. Hasil dari agresi Rusia terhadap Ukraina mungkin merusak kesehatan manusia dan lingkungan," kata Duta Besar Prancis untuk PBB Nicolas de Riviere.

Halaman:
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...
Advertisement