Kode QR BI Akan Bisa Dipakai Transaksi di Jepang hingga Arab Saudi

Ada 4,5 juta mitra penjual yang menggunakan QRIS. BI berencana menghadirkan QRIS di Jepang, Malaysia, India hingga Arab Saudi.
Image title
Oleh Cindy Mutia Annur
3 September 2020, 14:51
Standar QR BI Akan Bisa Dipakai Transaksi di Jepang, India, Arab Saudi
ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/wsj.
Ilustrasi, karyawan Bank Indonesia Cirebon menjelaskan kepada pelaku UMKM tentang aplikasi uang elektronik di Desa Kenanga, Indramayu, Jawa Barat, Jumat (24/7/2020).

Kode Quick Response (QR) standar atau QRIS telah digunakan oleh 4,5 juta mitra penjual (merchant) di Indonesia per bulan lalu. Bank Indonesia (BI) mengatakan, metode pembayaran ini akan bisa digunakan di Thailand, Malaysia, India, Jepang hingga Arab Saudi.

BI tengah melakukan pembicaraan dengan bank sentral di negara-negara tersebut. Jika diskusi ini berhasil, maka kode QR di wilayah itu akan bisa dipindai melalui aplikasi pembayaran Indonesia.

“Jadi, kalau Bapak/Ibu sedang haji atau umrah, nantinya tidak perlu membawa uang tunai,” kata Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Filianingsih Hendarta saat mengikuti webinar CNBC Indonesia bertajuk ‘Sistem Pembayaran Digital’, Kamis (3/9).

Nantinya, pengguna bisa memindai kode QR di masing-masing negara menggunakan dompet digital yang terdaftar di BI. “Nanti bisa isi saldo, lalu digunakan untuk berbelanja di sana,” kata Filianingsih.

Akan tetapi, rencana menghadirkan QRIS di negara lain merupakan tahap berikutnya. Saat ini, BI berfokus mendorong banyak mitra di Tanah Air untuk mengaplikasikan QRIS di setiap gerai.

Saat diluncurkan pada 17 Agustus tahun lalu, QRIS digunakan oleh 1.170 mitra. Kini, jumlahnya meningkat 370% menjadi 4,5 juta per akhir Agustus.

Dari jumlah tersebut, 95% di antaranya merupakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Volume transaksi menggunakan QRIS mencapai 9,59 juta kali per Juli. Sedangkan nilainya mencapai Rp 707,6 miliar.

Filianingsih menjelaskan, peningkatan jumlah mitra menggambarkan manfaat yang mereka dapat saat menggunakan QRIS. “Transaksi pun menjadi lebih cepat, bisa tercatat dan terekam dalam bentuk credit scoring," ujar dia.

Selain itu, keamanan transaksi lebih terjaga karena sistem pembayaran digital melindungi nasabah dari uang palsu.

Ia optimistis, QRIS akan lebih banyak digunakan ke depan. Ia pun menerapkan dua langkah untuk memastikan masyarakat konsisten menggunakan QRIS, meski pandemi Covid-19 usai.

 Pertama, menggandeng pemerintah, penyedia jasa sistem pembayaran (PJSP) termasuk bank dan non-bank, platform e-commerce. Dengan begitu, promosi berupa diskon hingga uang kembali (cashback) dapat menarik minat masyarakat untuk menggunakan QRIS.

Hingga saat ini, 47% pembayaran di e-commerce dilakukan secara non-tunai. Sedangkan nilai transaksi e-commerce pada kuartal II mencapai Rp 55,9 triliun.

"Bahkan, penyaluran bantuan sosial (bansos) dan Kartu Prakerja kini sudah memakai uang elektronik," ujar dia.

Kedua, mendorong transaksi non-tunai di lingkup pemerintah daerah. Transaksi itu mulai dari pemungutan retribusi pasar, parkir, pembayaran pajak bumi dan bangunan (PBB), pembayaran surat tanda nomor kendaraan (STNK), dan sebagainya.

Reporter: Cindy Mutia Annur

Video Pilihan

Artikel Terkait