Sanksi Trump ke Perusahaan Tiongkok Justru Memukul Produsen Mobil AS

Produsen mobil di AS hingga Eropa kesulitan mendapatkan cip karena Trump memberikan sanksi kepada raksasa semikonduktor Tiongkok, SMIC. Cip pun menjadi komponen langka.
Image title
20 Januari 2021, 11:08
Sanksi Trump ke Perusahaan Tiongkok Justru Memukul Produsen Mobil AS
ANTARA FOTO/REUTERS/Carlos Barria/HP/dj
Presiden AS Donald Trump berjalan melewati deretan pilar West Wing dari Oval Office menuju Rose Garden untuk menyampaikan berita terbaru mengenai "Operation Warp Speed", inisiatif bersama Departemen Pertahanan dan HHS yang mencapai kesepakatan dengan beberapa pabrikan obat dalam upaya membantu mempercepat pencarian pengobatan yang efektif untuk pandemi penyakit virus korona yang sedang berlangsung (COVID- 19) di Gedung Putih, Washington, Amreika Serikat, Jumat (13/11/2020).

Produsen mobil di Amerika Serikat (AS) kesulitan mendapatkan cip (chipset). Ini karena Presiden Donald Trump memasukkan beberapa perusahaan semikonduktor asal Tiongkok ke dalam daftar hitam (blacklist) perdagangan maupun keamanan.

Pada awalnya, produsen mobil memasok cip dari perusahaan Tiongkok dan Taiwan. Namun, Trump membatasi pasokan bahan baku ke raksasa semikonduktor asal Negeri Panda, Semiconductor Manufacturing International Corporation (SMIC).

Produksi cip SMIC pun terbatas. Alhasil, produsen mobil di AS dan sejumlah negara beralih ke Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC). Namun kini, perusahaan itu kewalahan memenuhi permintaan cip, sehingga semikonduktor ini mengalami kelangkaan.

Dewan Kebijakan Otomotif AS meminta Trump untuk mencari solusi atas kelangkaan cip tersebut. "Imbas kelangkaan cip, akan mengurangi produksi kami dan berdampak negatif pada ekonomi AS," kata Presiden Dewan Kebijakan Otomotif AS Matt Blunt dikutip dari Bloomberg, Selasa (19/1).

Dewan Kebijakan Otomotif AS juga meminta bantuan pemerintah Taiwan untuk melobi TSMC meningkatkan produksi cip. Produsen mobil General Motors pun berbicara dengan pejabat Taiwan dan meminta mereka membantu menyampaikan permintaan ke TSMC.

Selain AS, Uni Eropa mendekati pemerintah Taiwan terkait persoalan serupa. Produsen mobil asal Eropa Volkswagen juga menghubungi secara terpisah.

Sebagaimana diketahui, beberapa produsen mobil seperti Ford, Toyota, Volkswagen, Nissan, Fiat, hingga Audy mengurangi produksi mobil karena kekurangan cip. Ford misalnya, telah memerintahkan penghentian produksi selama sebulan di salah satu pabrik di Jerman. 

"Kami terus memantau situasi dan menyesuaikan jadwal produksi untuk meminimalkan efek pada karyawan, pemasok, pelanggan, dan dealer kami di seluruh Eropa," kata juru bicara Ford dikutip dari CNN Internasional, Senin (18/1).

(BACA JUGA: Tiongkok Balas AS yang Berencana 'Blokir' Raksasa Semikonduktor SMIC)

Produsen mobil asal Jerman Audy juga memangkas produksi 10 ribu unit pada kuartal pertama tahun ini. Audi juga terpaksa menempatkan 10 ribu pegawai dalam status cuti.

Toyota merasakan dampak dari kelangkaan cip itu. "Kekurangan pasokan cip global terutama berdampak pada produksi mobil Tundra, yang diproduksi di pabrik Texas, AS," kata juru bicara Toyota dikutip dari Fox Business, akhir pekan lalu (15/1).

Cip dibutuhkan oleh produsen otomotif membuat komponen seperti rem, alat kemudi dan komunikasi hingga wiper kaca depan. Ada lebih dari 100 jenis cip yang digunakan untuk pembuatan mobil.

Chipset pada mobil lebih kuat dibandingkan yang ada pada ponsel maupun laptop. Sebab, cip ini harus mampu menahan kisaran suhu dan keperluan daya mobil yang jauh lebih besar.

Apalagi, kini muncul mobil otomatis. Fitur pada mobil yang membutuhkan cip pun bertambah.

Kelangkaan cip diprediksi berlangsung lebih lama. Analis dari CCS Insight Geoff Blabber mengatakan bahwa produsen mobil bersaing dengan perusahaan sejenis hingga pembuat ponsel pintar (smartphone) untuk mendapatkan cip.

"Permintaan terus meningkat, sementara pasokan terbatas," kata Geof. "Ini akan sangat sulit untuk dipenuhi."

Sedangkan perusahaan suku cadang Jerman, Continental memperkirakan bahwa kekurangan cip ini dalam skala besar. Mereka memperkirakan, butuh sembilan bulan untuk memenuhi permintaan pasar.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Video Pilihan

Artikel Terkait