Marak Pengecer Barang Impor, Asosiasi E-Commerce Klaim Utamakan Lokal

Asosiasi e-commerce menilai, adanya reseller barang impor hal yang wajar. Namun, asosiasi memastikan bahwa barang lokal lebih banyak dijual di e-commerce.
Image title
23 Februari 2021, 20:40
Marak Reseller Produk Impor, Asosiasi E-Commerce: Barang Lokal Utama
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Warga memilih barang-barang belanjaan yang dijual secara daring di Jakarta, Jumat (27/12/2019).

Tagar #SellerAsingBunuhUMKM dan Mr Hu sempat viral, karena masyarakat menilai ada banyak produk impor di e-commerce Indonesia. Bukan hanya barang yang diimpor langsung, tetapi juga lewat pengecer atau reseller.

Berdasarkan pantauan Katadata.co.id, ada beberapa pedagang online di e-commerce yang mendeskripsikan tokonya sebagai reseller barang impor. Produk-produk ini dapat dengan mudah dicari dengan mengeklik ‘impor’ pada fitur pencarian di platform.

Selain itu, ada juga yang menawarkan barang impor ke pengecer lewat media sosial. Katadata.co.id mencoba untuk mengikuti grup reseller produk impor di WhatsApp.

Salah satunya bernama @reseller_import_jakarta yang menjual baju impor mulai dari Rp 95 ribu hingga Rp 160 ribu. Katadata.co.id mengonfirmasi asal barang, tetapi tim admin tidak memberikan tanggapan.

Ada juga @reseller_impor yang menjual produk busana seperti kemeja hingga kaos. Pada deskripsi grup tertulis bahwa barang tersebut impor.

Terdapat 83 orang yang bergabung di grup WhatsApp tersebut. Katadata.co.id juga mengonfirmasi asal barang, namun tak ada komentar.

Selain di e-commerce dan media sosial, banyak yang menawarkan barang impor lewat situs web. Namun, produk yang dijual dalam jumlah besar, bukan satuan.

Ketua Umum Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) Bima Laga menilai, adanya reseller barang impor merupakan hal yang wajar. "Ini menjadi bagian dari tren belanja online lintas negara (cross border)," kata dia kepada Katadata.co.id, Selasa (23/2).

Meski begitu, idEA mengatakan bahwa produk lokal tetap yang paling banyak dijual di e-commerce. Selain itu, ada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memproduksi barang mirip produk impor.

"Jadi belum tentu penjual yang memiliki produk serupa merupakan reseller barang impor,” kata Bima.

Pada 2019, idEA mencatat bahwa barang per paket yang penjualnya berasal dari luar negeri hanya 0,42%. Laporan JP Morgan berjudul ‘E-Commerce Payments Trend: Indonesia’ pada 2019 pun menunjukkan, hanya 7% konsumen yang membeli produk impor di e-commerce. Namun, penjualan lintas batas berkontribusi 20%.

Berdasarkan data idEA, sebagian besar penjual di e-commerce merupakan wirausaha dan UMKM Indonesia. Adanya produk dari negara lain merupakan pelengkap dalam menyediakan pilihan bagi konsumen.

Bima juga menegaskan bahwa masuknya barang impor lewat e-commerce sudah sesuai peraturan yang berlaku, seperti membayar bea masuk.

Sebelumnya, perwakilan Shopee Indonesia juga mengatakan bahwa 98,1% dari empat juta penjual aktif di platform merupakan UMKM. Hanya 0,1% yang merupakan pedagang lintas negara.

Produk dari penjual lokal masih mendominasi di Shopee yakni 97%. Secara rinci, penjualan produk UMKM di dalam ekosistem 71,4%, lintas negara 3%, dan sisanya pedagang besar lokal.

Namun, Peneliti Center of Innovation and Digital Economy Indef Nailul Huda juga memperkirakan, porsi produk impor di e-commerce mendominasi. “Perkiraan saya, produk lokal hanya 4-5% saja pangsa pasarnya di platform," kata dia kepada Katadata.co.id, akhir pekan lalu (18/2).

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait