Unicorn Baru Indonesia OnlinePajak Berencana IPO pada 2023

Unicorn OnlinePajak berencana IPO dalam dua atau tiga tahun ke depan. Startup jumbo ini juga menargetkan pasar luar negeri di Asia, karena dinilai potensial.
Image title
8 Oktober 2021, 14:28
unicorn, startup, ipo, OnlinePajak
OnlinePajak
Logo OnlinePajak

Unicorn OnlinePajak berencana mencatatkan penawaran saham perdana ke publik atau IPO dalam dua atau tiga tahun ke depan. Startup ini juga menargetkan pasar di luar negeri.

"Sebagai unicorn, kami juga ingin melantai di bursa. Dua atau tiga tahun mudah-mudahan tercapai," kata CEO OnlinePajak Mulia Dewi Karnadi saat konferensi pers virtual, Jumat (8/10).

Namun ia belum mau memerinci bursa saham mana yang diincar oleh OnlinePajak. Sedangkan beberapa unicorn dan startup jumbo lain ada yang berencana IPO di bursa saham Amerika Serikat (AS) dan Indonesia atau BEI.

Berdasarkan laporan CB Insights bertajuk ‘The Complete List of Unicorn Companies’ menunjukkan, OnlinePajak menjadi unicorn ketujuh Indonesia. Valuasi startup perpajakan ini US$ 1,7 miliar atau sekitar Rp 24,75 triliun.

Yang terbaru, Ajaib Sekuritas disebut-sebut sudah menjadi unicorn. Blibli.com dan Tiket.com juga diklaim memiliki valuasi di atas US$ 1 miliar.

Selain menjajaki IPO, OnlinePajak berencana ekspansi ke pasar luar negeri. "Cita-cita OnlinePajak yakni mengembangkan pasar, tidak hanya di Indonesia. Selesai waktu untuk ‘jago kandang’," kata Mulia.

Unicorn itu menargetkan beroperasi di negara lain dalam dua hingga tiga tahun ke depan. OnlinePajak juga sudah mengidentifikasi sejumlah negara tujuan. 

Mulia menyampaikan, sebagian negara di Asia memiliki masalah yang sama dengan Indonesia terkait pajak. Oleh karena itu, OnlinePajak menyasar pasar ini.

Selain itu, OnlinePajak menyasar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Founder and Group CEO OnlinePajak Charles Guinot menilai pasar UMKM di Indonesia potensial. 

Indonesia memiliki 64 juta UMKM yang berkontribusi sekitar 60% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Sedangkan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) mencatat, 15,9 juta UMKM sudah terdigitalisasi.

OnlinePajak pun menyiapkan tiga pilar layanan bagi UMKM, sebagai berikut:

  1. Kepatuhan: berfokus membantu UMKM untuk patuh dalam membayar pajak
  2. Transaksi: menyediakan layanan pembayaran yang terintegrasi
  3. Koneksi: menyediakan akses untuk memperoleh fasilitas validasi dan pendanaan 

"Lewat teknologi, kami memberikan integritas di setiap transaksi pelaku UMKM," kata Charles.

OnlinePajak mengadopsi teknologi blockchain untuk mempermudah masyarakat membayar pajak. Aplikasi ini dikembangkan oleh Achilles Advanced System yang merupakan mitra penyedia jasa resmi Direktorat Jenderal Pajak untuk e-filing dan e-billing pajak.

Perusahaan yang didirikan pada 2015 itu mengintegrasikan data berbasis web yang dapat digunakan oleh wajib pajak untuk menghitung, setor, dan lapor pajak dalam satu platform. Pengguna juga bisa mengelola pajak secara gratis dengan tambahan fitur premium seperti invoicing dan payroll.

Hingga saat ini, OnlinePajak mencatatkan dua juta pengguna baik dari korporasi, UMKM, dan individu. Total nilai pajak yang dikelola oleh OnlinePajak Rp 174 triliun per tahun lalu.

Berdasarkan laporan CB Insights bertajuk ‘The Complete List of Unicorn Companies’ menunjukkan, OnlinePajak menjadi unicorn ketujuh Indonesia. Valuasi startup perpajakan ini US$ 1,7 miliar atau sekitar Rp 24,75 triliun.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait